Jumat, 20 Agustus 2010

Untuk Jodohku

kenapa ya pacaran itu rumit? lebih banyak sakit hatinya daripada bahagianya.Padahal dulu aku punya janji ama diri aku sendiri, pacaran sekali aja itu pun kalo udah sangat yakin sama orang yang memang bener-bener sayang ama aku. Aku pengen pacar pertamaku itu ya yang jadi suamiku nanti. Tapi kenapa jadi kayak gini??? aku nerima seseorang jadi pacarku tanpa tahu asal usu, sayang apa cuma main2 ama aku. Aku serampangan banget dan terkesan gampangan. tapi aku juga bingung dan ga tahu alasannya kenapa aku nerima dia. Kadang kalo aku berandai andai seandainya kalo aku putus. Mungkin bagi dia itu bukan masalah besar. Dan kalau ini terjadi aku juga ga bisa apa-apa. sedih memang, karena ketika aku udah sayang banget ama seseorang maka orang itu akan selalu muncul di hidupku bisa lewat mimpi atau lamunan atau entahlah..tapi aku punya janji lain sebagai penebusnya.. aku akan serius dengan kuliah/pekerjaanku sampai jodohku datang menjemputku.
Kadang aku menyesal sekali kenapa aku harus pacaran.. dan betapa iri hatinya aku pada muslimah-muslimah diluar sana yang memiliki janji pada diri sendiri untuk tidak berpacaran dan setia dengan jodohnya. indah sekali... aku juga pengen.. tapi aku udah terlanjur pacaran.. dan enggak tahu dia jodohku apa bukan. kalau bukan, maka aku merasa bersalah dengan jodohku yang dari Allah... aku melakukan kesalahan, aku enggak sabar menanti jodohku datang menjemputku.. maafkan aku jodohku, aku tidak setia padamu..
>>> untuk jodohku yang entah berada dimana.. maafkan aku sayang.. maaf karena aku tidak sabar menunggumu..semoga kamu selalu setia menungguku... aku selalu menunggumu.. cepatlah temukan aku... semoga kita bisa ketemu.. amien..

Minggu, 02 Mei 2010

KAU DAN KEAJAIBAN KECILMU

“ Jam 4 lewat 25 menit” gumamku. “ Huh, lagi-lagi telat jemput” keluhku sambil membetulkan letak tas punggungku. Langit di sekitarku tampak kelam. Beberapa waktu kemudian, hujan turun deras. Aku berteduh di bawah tenda orange yang ada di depan tempat lesku. Di kejauhan terlihat seorang gadis kecil berlari sambil menjinjing sebuah keranjang. Baju gadis kecil itu basah kuyup. Saat tiba di tempatku berteduh, dia tersenyum manis ke arahku. Aku pun membalas senyumannya. Gadis kecil itu duduk di sebelahku sambil menggigil. “ Kamu kedinginan ya dik?” tanyaku membuka pembicaraan. “ Iya, mbak..” ucapnya sambil tersenyum. “Namaku Lilin” ucapku memperkenalkan diri. “ Kamu bawa apaan sich?” tanyaku penasaran. “ Oh, ini roti buatan tetangga Nisa. Nisa Cuma bantu jualan, mbak” ucapnya. “ Waaah… Kamu hebat ya, kecil-kecil udah bisa bekerja” ucapku kagum. “ Nisa Cuma pengen bantu ibu aja kok mbak, karena ibu sering sakit-sakitan. Sebenarnya Nisa juga ingin seperti anak-anak lain, bisa main, sekolah..” Nisa tak lagi melanjutkan kata-katanya. “ Lho, terus ayah kamu dimana?” tanyaku tak mengerti. “ Ayah pergi meninggalkan Nisa dan ibu waktu umur Nisa 5 tahun” ucapnya lirih. Aku menyentuh pundaknya, tanda simpati. “ aku beli rotinya 3 ya…” ucapku mengalihkan pembicaraan. Nisa pun menyodorkan roti pesananku. “ Ini uangnya” Kusodorkan selembar uang 5000. “ Kembaliannya buat kamu saja” ucapku. “Makasih ya, mbak Lilin” ucapnya senang. “ umur kaamu berapa?” tanyaku. “ Umur Nisa 9 tahun mbak” jawab Nisa. “ Eh, Nisa udah dulu ya, mbak Lilin sudah di jemput. Kapan-kapan kita ketemu disini lagi ya” ucapku sambil melambaikan tangan. Gadis kecil itu pun membalas lambaianku.
@@@

“ Ma, kasihan deh, tadi sore aku ketemu anak umur 9 tahun yang udah cari uang sendiri” ucapku. Akupun menceritakan kejadian tadi sore kepada mama. “ Makanya Lin, kamu harus bersyukur, selama ini semua keinginan kamu selalu terpenuhi” ucap mama. “ Iya ma, Lilin juga tahu selama ini apa yang Lilin mau selalu terpenuhi. Padahal diluar sana masih banyak anak-anak yang enggak seberuntung Lilin” ucapku dengan mata menerawang. “Nah, jadi sekarang kamu enggak boleh manja lagi ya” ucap mamamenggodaku. “ ahh… Mama” ucapku tersenyum malu. Aku memang sering terkena sindrom ini. Teman-temanku menyebutnya ‘Sindrom anak tunggal’. Aku memang anak tunggal, semua yang aku inginkan selalu terpenuhi. Selain itu, orangtuaku juga over protektif. Ke sekolah diantar jemput, padahal aku sudah kelas 3 SMA. Kalau pergi bersama Sasa, Fitri dan Andra pun masih dalam pengawasan ortu. Hampir 15 menit sekali pasti mama telepon ke HPku. Kadang aku merasa tidak enak dengan teman-teman karena sikap ortuku yang over protektif ini. Keesokan harinya, di kantin aku menceritakan kejadian kemarin sore kepada ketiga sahabatku Sasa, Fitri dan Andra. Kami bersahabat sejak kelas 1 SMA. “ Wah hebat ya, kecil-kecil udah bisa bantu orang tua” seru Fitri kagum. “Iya Fit, enggak kayak kamu kerjanya Cuma minta melulu sama orangtua” canda Sasa. Fitri tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Menurutku biasa aja tuh. Di dunia ini buakan Cuma dia yang bisa kerja walaupun masih kecil” ucap Andra sinis. “Huuuu….” Seru kami serentak. “Ndra, emangnya kamu mau nawarin roti yang kamu jual ke orang-orang. Kamukan orangnya gengsian”ucapku tersenyum jahil mendengar perkataanku Andra langsung cemberut. Aku dan teman-teman tertawa geli melihatnya. “Nanti sore kan malem Minggu, kita jadi enggak cari buku ntuk tugas dari Bu Lely? “tanya Fitri. “ Jadi dong!” seru kami kompak.
@@@

“Ma… boleh ya?” pintaku merajuk. “Lilinkan cari buku untuk mengerjakan tugas dari bu Lely. Boleh ya? Please ma…”ucapku. “ Ya udah, tapi jangan malam-malam ya pulangnya” jawab mama. “ Lilin pergi dulu ya ma” pamitku. Beberapa menit kemudian kami telah tiba di toko buku terbesar di kota kami. Kami segera mencari buku yang dibutuhkan. Setelah mendapatkan buku, kami bergegas pulang. Di luar hujan turun sangat deras. Kami berlari masuk ke mobil Andra. Di tengah perjalanan pulang, aku melihat seorang gadis kecil yang sedang berteduh sambil menggigil kedinginan. Aku mengenal gadis kecil itu. “Nisa” seruku. “Ndra stop Ndra” ucapku. “ Kenapa sich Lin?” tanya Andra kesal. Itu Nisa, kita anterin dia pulang yuk”kasihan kayaknya dia lagi sakit”ucapku. “Males ah, biarin aja.”ucap Andra. “Andra, ayo dong masa kamu tega sich” ucapku merajuk. “Ok deh” ucapnya mengalah. Aku berlari menghampiri Nisa. “Nisa, mbak anter kamu pulang ya..” ucapku. “Makasih mbak, tapi Nisa enggak mau ngerepotin mbak”ucapnya. “Nggak ngerepotin kok, ayo” ucapku sambil menggandeng tangannya. “Rumah kamu dimana?”tanyaku. “Deket stasiun mbak”ucapnya lirih. “Kamu sakit ya dik?” tanya Fitri. “Iya mbak, badan Nisa enggak enak”ucapnya. “Nih pake jaket mbak Lilin dulu” ucapku sambil menyerahkan jaket biru kesayanganku. “Makasih mbak”ucap Nisa. Tak lama kemudian kami tiba di rumah kecil yang sangat sederhana. “Nis, besok mbak boleh main ke rumahmu kan? Tanyaku”. “Iya mbak. Makasih ya kakak-kakak sudah mengantar aku pulang” ucap Nisa sambil tersenyum ke arah kami. “Iya, sama-sama” jawab kami.
@@@
“Ma, Lilin tadi ketemu Nisa. Trus, Lilin anterin pulang. Kasihan Ma, sedang sakit tapi masih jualan “ ucapku. “ Iya, kasihan “ ucap mama bersimpati. “Ma, besok Lilin boleh ke rumah Nisa ya “ucapku manja. “Iya, tapi mama anterin “ ucap mama. Keesokan harinya, aku menyiapkan semua barang yang akan kubawa. “Ya ampun, kamu mau pergi apa pindahan sich” ucap mama heran. “Ma, Nisa baru sakit jadi Lilin bawain bubur dan obat. Terus, Lilin bawain juga jaket yang udah kekecilan. Kasihan ma, dia enggak punya jaket” ucapku panjang lebar. Lalu, aku bawa semua barang-barang itu ke mobil. Kemudian aku dan mama pergi ke rumah Nisa. “Lin, mama tinggal ya. Nanti kalau mau pulang telepon mama” pesan mama setelah tiba di rumah Nisa. “Iya, ma” jawabku pendek. Aku turun dari mobil sambil membawa barang-barang bawaanku. “Assalamu’alaikum” ucapku. “Walaikumsalam” balas seorang wanita dengan suara lemah. Dari dalam rumah muncul seorang wanita berwajah pucat. “Bu, Nisa ada?”tanyaku. “Ada nak, tapi rumahnya kotor” ucapnya seraya menuju ke sebuah ruangan sempit. “Tidak kok bu” ucapku. “Nis, ada yang nyari kamu” ucap ibunya kepada Anisa yang sedang tiduran diatas ranjang yang sudah tua. “ Hai Nis” sapaku. “Mbak Lilin” serunya terkejut. “Nih mbak bawain bubur dan obat untukmu”ucapku sambil meletakkan barang yang aku bawa di atas meja di depanku. “Terimakasih ya mbak”ucapnya senang.”O iya, kamu enggak punya jaketkan?Nih, mbak bawain jaket mbak yang udah kekecilan. Masih bagus kok” ucapku sambil memakaikan jaket ke tubuhnya supaya hangat. “Sekarang, buburnya dimakan dulu, lalu obatnya di minum. Apa mau mbak suapin?”tanyaku. “Enggak usah mbak, Nisa bisa sendiri kok” ucapnya sambil duduk. “Mbak Lilin, baik banget sich ke Nisa?”tanyanya heran. “Sejak mbak ngelihat kamu, mbak ngerasa kamu adik mbak. Dari dulu mbak ingin punya adik, tapi karena suatu hal keinginanku enggak bisa terwujud. Kamu mau kan jadi adikku?”tanyaku penuh harap. “Iya mbak, Nisa mau”ucapnya tersenyum kemudian memelukku. “ Kalau begitu mulai sekarang panggil mbak Lilin Kakak ya?pintaku. “ Iya, kak”ucapnya senang. “Nis, kamu enggak keberatan kan kalo kakak sering kesini?”tanyaku. Nisa membalas pertanyaanku dengan anggukan. “ Kalau begitu, nanti kakak ajarin pelajaran kayak di sekolah, mau kan?”tanyaku. “Iya kak, Nisa mau banget” ujarnya bersemangat. Sejak saat itu, hampir setiap hari aku mengunjungi Nisa, adikku tersayang.
@@@

“ Lin, sekarang kamu jarang main sama kita. Pasti gara-gara Nisa ya?” ucap Andra ketus. “Ndra, jangan marah dong, kalian tetep sahabatku yang paling baik kok. Aku janji deh akan main bareng lagi kayak dulu” ucapku. “Iya Lin, nggak papa kok Andra jangan kamu dengerin”hibur Sasa. “ Btw Lin, udah 4 bulan ini kamu berubah loh, nggak manja lagi trus keliatan lebih dewasa lagi enggak kayak dulu”ucap Fitri. “Fit, kamu muji apa nyindir sich. Iya, ini semua karena pengaruh dari Nisa. Aku belajar untuk mandiri. Bagiku, Nisa seperti peri kecil yang membawa keajaiban di hidupku”ucapku panjang lebar. “Iya deh, yang punya adik baru” seru Fitri dan Sasa bersamaan sambil tertawa. “Ndra, jangan cemberut lagi dong. Wajahmnu kayak nenek sihir kalo cemberut”candaku. Akhirnya Andra tersenyum karena malu.
@@@

Sore harinya, aku berjanji untuk bertemu dengan Nisa di Tenda orange di depan tempat lesku. “Hai Nis. Kakak anterin yuk” ajakku sambil menggandeng tangannya. Ketika aku dan Nisa menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah utara. Spontan, kupeluk tubuh mungil Nisa agar terhindar dari hantaman keras mobil itu. Aku dan Nisa jatuh terpental. Kepalaku terbentur keras ke jalan aspal. Aku segera bangkit, untuk melihat keadaan Nisa. Syukurlah, Nisa hanya lecet-lecet. Disampingnya, ada tubuh seorang gadis yang bersimbah darah sedang memeluk Nisa. Ternyata, setelah kupaerhatikan gadis itu adlah aku. Kupandang tubuhku dengan perasaan sedih. Orang-orang berdatangan untuk melihat keadaanku dan Nisa. Hari in banyak yang mengunjungi rumahku. Tepatnya datang ke pemakamanku. Aku melihat keadaan sekitarku. Mama menangis tersedu dan Papa menerima tamu-tamu yang ikut berkabung. Nisa dan ibunya duduk disamping mamaku. Andra,Fitri dan Sasa berdiri menatap tubuhku yang telah membeku ini dengan sedih. “Bu, saya harap Nisa bisa menganggap saya seperti ibu dan ibu seperti saudara saya. Selama ini, Lilin sudah menganggap Nisa sebagai adik kandungnya. Dia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang kakak hingga..” mama tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ibu Nisa mengiyakan permintaan mama. Aku tersenyum bahagia melihat kejadian itu.

Minggu, 11 April 2010

Untukku... ( for my lover)

Kahitna – Untukku


Disaat engkau disana

Kadang langit terasa gelapnya


Kemana langkahku pergi

Slalu ada bayangmu

Ku yakin makna nurani

Kau takkan pernah terganti

*Courtesy of IndoTopHits.com

Saat lautan kau sebrangi

Janganlah ragu bersauh

Ku percaya hati kecilku

Kau takkan berpaling


Reff:

Walau keujung dunia, pasti akan kunanti

Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu

Karena ku yakin, Kau hanya untukku


Saat lautan kau sebrangi

Janganlah ragu bersauh

Ku yakin makna nurani

Kau takkan pernah terganti


Pandanglah bintang berpijar

Kau tak pernah tersembunyi

Dimana engkau berada

Disana cintaku


*back to reff*


Disaat engkau disana

Kadang langit terasa gelapnya

Namun bintang kan tunjukan

Rinduku pada dirinya


Walau keujung dunia, pasti akan kunanti

Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu [x3]


Karena ku yakin, Kau hanya untukku [x2]


hanya untukku [x2]



Lirik Kahitna – Untukku ini dipersembahkan oleh Indonesian Top Hits Song.

Kamis, 08 April 2010

Lanjutan pacar pertama

hmmmm.... aku ga jadi putus... akhirnya baikan lagi... dan sekarang udah hampir 1 tahun.... lumayan awet yaaaa....hihihihi... yang jelas udah ga terlalu sering berantem... udah lumayan adem ayem.. o iya bulan november lalu akhirnya aku dan aa' bisa ktemu... aa ke solo selama 4 hari.. lumayan lama c, tapi ga cukup buat ngilangin rasa kangen... huhuhuhu... iri deh klo liat orang-orang bisa pacaran.. klo aku... ketemu ajah bisa dihitung pake jari... iri banget deh...huh... kapan ya aa' ke solo lagi?
aq pengen bilang sesuatu aja buat teman-teman yang baca blogku ini... selalu bersyukurlah dengan apa yang kalian miliki... bersyukurlah jika memiliki pacar yang dekat, masih satu kota. jangan buang waktu kalian untuk bertengkar... dan jangan mengkhianati perasaan pacar dengan mencoba selingkuh dengan orang lain.. percaya atau tidak, perbuatan yang kita lakukan itu suatu saat pasti juga akan kita tunai... aq sering banget ngeliat pengalaman dari temen-temenku yang selingkuh... akhirnya hubungannya selalu buruk dan ga pernah bahagia dengan seseorang yang baru... ga percaya?? silahkan dicoba...
hmmm... doaku... semoga awet pacarannya...