Minggu, 26 April 2009

SEBUAH BUKU BERSAMPUL HIJAU

SEBUAH BUKU BERSAMPUL HIJAU

OLEH: NIDYA FITRI R.

Aku memandang buku bersampul hijau yang tergeletak dia atas meja belajarku. Aku masih tidak mengerti mengapa Sina memberikan buku itu kepadaku. Padahal selama ini, Sina dan aku tidak terlalu dekat. Bahkan jika tidak kusapa, dia tidak akan menyapaku terlebih dahulu. Sina memiliki sifat keras, mudah marah dan individual. Di kampus, dia sama sekali tidak mempunyai teman. Dan mungkin Cuma aku yang sering menyapanya. Teman – teman sering menasehatiku agar tidak mendekati Sina. Namun, aku tidak pernah menghiraukan nasehat teman-temanku. Percakapan tadi siang pun masih terekam di otakku.

“ Dis, kamu jangan dekat-dekat deh sama Sina. Nanti nasib kamu jadi kaya si Icha.” Ucap Desi.

“ Emangnya Icha diapain Sina?” tanyaku penasaran.

“ Dulu, Icha juga seperti kamu, berusaha baik sama Sina. Tapi, gara-gara Icha nasehatin Sina agar rajin masuk kuliah, catatan kuliah yang akan dipinjem Sina langsung dilempar ke mukanya lalu Sina menjawab dengan kasar agar Icha tidak usah ikut campur dengan urusannya.” Ucap Desi dengan ekspresi penuh kejengkelan.

“ Enggak Cuma itu Dis, kamu tahu Donnie, anak taekwondo itu kan. Dia itu mantan pacarnya Sina waktu SMA.Setiap dengar namanya Sina, dia selalu berteriak marah. Ekspresi mukanya selalu menunjukkan betapa bencinya dia dengan Sina.Kata teman-temannya, mereka putus karena Sina selingkuh dengan cowok lain.Dan masih banyak lagi masalah yang dia buat ke orang-orang” ucap Dea.

Mendengar cerita dari mereka aku hanya bisa tersenyum. Aku sendiri heran, mengapa aku sangat ingin bersahabat dengan Sina. Aku membuka buku tersebut. Di halaman paling depan terdapat beberapa foto. Ada foto Sina dengan kedua orang tuanya ketika masih kecil, lalu ada foto Sina bersama seorang gadis berseragam SMA, foto Sina bersama Donnie, dan beberapa foto lain yang menampakkan senyum manis Sina. Aku belum pernah melihat dia tersenyum seperti ini. Kemudian aku membuka beberapa lembar halaman buku tersebut. Mataku mulai membaca satu persatu halaman yang ada di buku tersebut.

23 Maret 2003

Tuhan, kenapa sih mama dan papa selalu bertengkar. Apa mereka tidak pernah sadar, mereka selalu bertengkar dihadapanku. Aku yang enggak bersalah selalu ikut kena marah. Mereka memang tidak pernah memikirkan perasaanku. Mereka juga lupa, kalau hari ini aku berulang tahun yang ke 17 tahun. Untung saja ada Donnie dan sahabatku, Rena yang ikut merayakan ulang tahunku. Paling tidak aku jadi merasa tidak sendiri lagi…

Ternyata, buku ini adalah buku harian milik Sina. Aku segera menutup buku tersebut, Aku tahu, membaca buku harian seseorang merupakan hal yang sangat tidak sopan. Aku memejamkan mataku, berharap esok segera tiba. Aku ingin segera mengembalikan buku tersebut ke Sina.

T

Aku bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Buku tebal bersampul hijau milik Sina

aku masukkan ke dalam tasku. Beberapa menit kemudian aku tiba di kampus lalu mencari Sina. Namun, aku tidak berhasil menemukannya. Aku memutuskan untuk kembali mencarinya setelah jam kuliah selesai. Setelah jam kuliah selesai, aku melanjutkan mencari Sina. Hampir seluruh teman satu jurusan aku tanyai, namun hasilnya sama, mereka tidak melihat keberadaan Sina. Aku memutuskan untuk menemui Icha, karena dia pernah dekat dengan Sina. Mungkin saja dia tahu alamat rumah Sina.

“ Maaf ya Dis, aku tidak tahu alamat rumahnya Sina. Kamu Tanya aja sama Donnie, dia kan pernah pacaran dengan Sina, mungkin saja dia tahu alamatnya “ ucap Icha.

“ Ya udah, thanks ya Cha” ucapku .

Akhirnya aku menemui Donnie, teman satu klub taekwondoku di kampus.

“ Don kamu tahu alamat rumahnya Sina enggak ?” tanyaku pada Donnie.

“ Ngapain sich, kamu mencari Sina. Jangan-jangan dia membuat masalah lagi ya” Tanya Donnie gusar.

“ Enggak kok, aku Cuma mau mengembalikan bukunya saja”ucapku sambil mengeluarkan secarik kertas.

“ oh, begitu. Ini alamatnya, hati-hati ya, jangan sampai kamu bermasalah dengan dia “ ucap Donnie sambil memberikan secarik kertas yang berisikan alamat.

“ Makasih ya Don” ucapku . aku segera mencari alamat rumah Sina. Setelah bertanya kesana kemari, ahirnya aku berhasil menemukan rumah Sina. Lalu aku memencet bel rumah Sina. Tak berapa lama kemudian dari dalam rumah muncul seorang perempuan yang tampaknya lebih muda dari aku.

“ Selamat sore, Sinanya ada di rumah?” tanyaku sambil tersenyum.

“ Oh, mbak Sina udah 3 hari nelum pulang, tidak tahu dimana.” Ucapnya sambil mengucir rambutnya yang nampak kusut.

“ Oh, begitu ya. Nanti kalau Sina sudah pulang, tolong beritahu kalau dicari Gadis. Makasih ya” ucapku . “ Ya ampun kamu kemana sih, Sina. “ tanyaku dalam hati. Sesampainya di rumah aku mengeluarkan buku itu dari tasku. Aku sangat penasaran dengan kelanjutan isi dalam buku tersebut. Toh Sina sendiri yang memberikan buku hariannya kepadaku. Akhirnya aku melanjutkan membaca buku yang menjadi tempat curahan hati Sina.

10 April 2003

Akhirnya mama dan papa bercerai dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka memang enggak pernah mikirin perasaanku. Semua orang memang sudah enggak peduli lagi denganku.

Sekarang aku enggak punya siapa-siapa lagi. Rena selalu sibuk dengan pacarnya. Setiap aku mau curhat, dia selalu ada acara dengan pacarnya. Donnie… ugh, dasar cowok sialan!. Waktu aku butuh dia untuk menumpahkan seluruh isi hatiku, dia malah selingkuh dengan cewek lain. Dia makan bareng cewek yang udah lama naksir dia. Huuh… aku enggak tahu lagi mau curhat dengan siapa, selain nulis di buku ini….

Aku membuka dan membaca halaman demi halaman yang ditulis oleh Sina. Di setiap halamannya, selalu berisi tentang kesedihan,kemarahan dan rasa kesepian. Terkadang mataku berkaca-kaca setiap membaca tulisannya itu.

19 April 2003

Ternyata enggak semua orang cuek dengan aku, masih ada orang yang mau dengerin curhatanku. Egi memang terkenal paling ‘preman’ di sekolah, tapi dia lebih baik dibanding Rena dan Donnie. Dia mengenalkan aku ke teman-teman satu genknya. Mereka baik dan ramah. Egi memberi ide agar aku balas dendam ke Donnie, dan aku setuju dengan idenya. Rencananya aku pura-pura selingkuh dengan temannya Egi. Aku enggak sabar melihat Donnie ngerasain hal yang sama seperti aku.

Aku melanjutkan membaca buku itu. Aku ingin mengetahui, kelanjutan masalah ini.

21 April 2003

Akhirnya aku putus juga dengan Donnie. Memang itu yang aku mau. Sekarang aku enggak perlu merasa sedih lagi karena dilupakan oleh orang-orang yang aku sayangi. Hanya dengan menghirup putaw saja aku bisa melupakan semua masalah yang aku alami. Aku enggak peduli lagi, ortu yang cerai,Donnie yang selingkuh atau Rena yang sekarang Cuma bisa bilang kalau aku udah berubah. Memangnya dia pikir gara-gara siapa aku jadi seperti ini. Aku sama sekali enggak peduli dengan mereka lagi….

Aku tertegun membaca tulisan yang baru saja aku baca. Kasihan sekali Sina. Dia merasa tidak ada orang yang peduli terhadap dia. Berbeda sekali dengan aku yang selalu mempunyai teman yang baik dan selalu memperhatikan aku.

T

Sina berlari tak tentu arah, menghindar dari kejaran Gengnya Egi. Sudah 3 tahun dia bergabung dengan geng itu. Dia ingin keluar dari geng itu, karena selalu dipaksa untuk ikut mengedarkan narkoba. Sina tahu, pekerjaan itu sangat beresiko. Lagipula dia juga berusaha untuk tidak bergantung lagi dengan benda terkutuk itu. Namun, upayanya selalu saja gagal karena dia tidak tahan menahan sakit ketika sedang sakaw. Tubuhnya serasa dipukuli oleh ribuan orang, jika dia tidak mengonsumsi benda tersebut. “ Cepetan, kejar cewek itu, jangan sampai lolos” teriak Egi

dengan suara menggelegar. Sina terus berlari tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Dia tidak peduli dengan tatapan aneh orang yang dia lewati. Dia hanya ingin selamat agar tidak mati konyol dibunuh oleh Egi. Beberapa kali dia terjatuh karena lelah. Namun dia segera berdiri lagi dan berlari sekuat tenaga. Dia tidak menghiraukan teriakan dari orang-orang di sekitarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya terseret kereta api express. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera menolongnya.

T

4 Desember 2006

Tuhan, aku sudah capek terus menerus lari dari kejaran gengnya Egi. Aku tahu, aku ini hanyalah pendosa dan tidak pantas untuk meminta pertolonganmu. Tapi, aku mohon padaMU Tuhan, bantulah aku untuk lepas dari semua ini. Aku tidak ingin bergantung lagi dengan putaw. Aku hanya ingin hidup normal seperti dulu…

Ternyata tulisan yang aku baca tadi, adalah curahan hati Sina yang terakhir ditulisnya. Lalu aku membaca halaman terakhir yang ditulis oleh Sina. Rupanya tulisan itu pesan dari Sina untukku. Aku membaca tulisan itu dengan hati berdebar.

13 Desember 2006

Hai, Gadis…

Aku tahu, kamu pasti bingung karena aku memberikan buku ini ke kamu. Aku ingin minta tolong, karena aku rasa kamu satu-satunya orang yang bisa menolongku. Sudah lama aku ingin keluar dari lingkungan hitam ini. Tapi tidak ada yang bisa membantu. Kamu beda dari teman-teman yang lain. Kamu tetap ramah dan baik terhadapku walaupun aku sering bertindak sebaliknya. Kalau aku udah berhasil keluar dari lingkungan yang hitam itu, kamu mau kan jadi temanku?

Sebuah pertanyaan yang langsung bisa kujawab. Tentu saja aku mau, karena aku tahu, kalau sikap kasar Sina selama ini ke orang-orang bukan sifat dia yang sesungguhnya. Aku tersentak kaget mendengar ketokan pintu yang terdengar sangat terburu-buru. Aku segera membuka pintu.

“ Dis, nih baca Koran ini” ucap Desi sambil memberikan Koran kepadaku.

“Mahasiswi Tewas Tertabrak Kereta, Pengedar Narkoba Berhasil Ditangkap”

Aku membaca berita itu dengan seksama. Rupanya Geng Egi berhasil ditangkap oleh polisi ketika sedang mengejar Sina. Orang-orang yang dilewati Sina lah yang melaporkan kejadian tersebut ke Polisi karena curiga terhadap tingkah laku mereka yang mencurigakan. Dalam Koran tertulis Sina berlari dari kejaran geng Egi karena ingin keluar dari geng tersebut. Ternyata keinginannya untuk keluar dari geng itu benar-benar kuat. Air mataku mengalir. Aku memeluk Buku bersampul hijau itu. “Thanks ya,Sin” ucapku dalam hati. Dan Hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk Sina adalah memperlihatkan isi buku tersebut ke Donnie.

TTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar