Minggu, 26 April 2009

MY POEM

Sepi…

Hanya sunyi yang menyapa

Lagi dan lagi kurasa

Mencoba tuk mengerti

Arti hadirnya

Yang sebelumnya tak kusadari

Semua telah hilang

Hanya karena sepatah kata

Skali lagi kucoba tuk mengerti

Namun belum kutemukan jawabannya

Ku hanya berpura-pura

Maaf terucap

Namun kau tak mengerti jua

Selalu aku yang mencoba mengerti

Mencoba bertahan dengan skuat hati

Letih yang terasa

Sakit tak lagi terasa

Karena ku slalu mencoba

Tuk skali lagi mengerti

Mengapa kau tak mencoba….

Tak sedikitpun kau hargai

Jengah sudah aku dalam semua kabut ini

Tak akan kuulangi lagi

SEBUAH BUKU BERSAMPUL HIJAU

SEBUAH BUKU BERSAMPUL HIJAU

OLEH: NIDYA FITRI R.

Aku memandang buku bersampul hijau yang tergeletak dia atas meja belajarku. Aku masih tidak mengerti mengapa Sina memberikan buku itu kepadaku. Padahal selama ini, Sina dan aku tidak terlalu dekat. Bahkan jika tidak kusapa, dia tidak akan menyapaku terlebih dahulu. Sina memiliki sifat keras, mudah marah dan individual. Di kampus, dia sama sekali tidak mempunyai teman. Dan mungkin Cuma aku yang sering menyapanya. Teman – teman sering menasehatiku agar tidak mendekati Sina. Namun, aku tidak pernah menghiraukan nasehat teman-temanku. Percakapan tadi siang pun masih terekam di otakku.

“ Dis, kamu jangan dekat-dekat deh sama Sina. Nanti nasib kamu jadi kaya si Icha.” Ucap Desi.

“ Emangnya Icha diapain Sina?” tanyaku penasaran.

“ Dulu, Icha juga seperti kamu, berusaha baik sama Sina. Tapi, gara-gara Icha nasehatin Sina agar rajin masuk kuliah, catatan kuliah yang akan dipinjem Sina langsung dilempar ke mukanya lalu Sina menjawab dengan kasar agar Icha tidak usah ikut campur dengan urusannya.” Ucap Desi dengan ekspresi penuh kejengkelan.

“ Enggak Cuma itu Dis, kamu tahu Donnie, anak taekwondo itu kan. Dia itu mantan pacarnya Sina waktu SMA.Setiap dengar namanya Sina, dia selalu berteriak marah. Ekspresi mukanya selalu menunjukkan betapa bencinya dia dengan Sina.Kata teman-temannya, mereka putus karena Sina selingkuh dengan cowok lain.Dan masih banyak lagi masalah yang dia buat ke orang-orang” ucap Dea.

Mendengar cerita dari mereka aku hanya bisa tersenyum. Aku sendiri heran, mengapa aku sangat ingin bersahabat dengan Sina. Aku membuka buku tersebut. Di halaman paling depan terdapat beberapa foto. Ada foto Sina dengan kedua orang tuanya ketika masih kecil, lalu ada foto Sina bersama seorang gadis berseragam SMA, foto Sina bersama Donnie, dan beberapa foto lain yang menampakkan senyum manis Sina. Aku belum pernah melihat dia tersenyum seperti ini. Kemudian aku membuka beberapa lembar halaman buku tersebut. Mataku mulai membaca satu persatu halaman yang ada di buku tersebut.

23 Maret 2003

Tuhan, kenapa sih mama dan papa selalu bertengkar. Apa mereka tidak pernah sadar, mereka selalu bertengkar dihadapanku. Aku yang enggak bersalah selalu ikut kena marah. Mereka memang tidak pernah memikirkan perasaanku. Mereka juga lupa, kalau hari ini aku berulang tahun yang ke 17 tahun. Untung saja ada Donnie dan sahabatku, Rena yang ikut merayakan ulang tahunku. Paling tidak aku jadi merasa tidak sendiri lagi…

Ternyata, buku ini adalah buku harian milik Sina. Aku segera menutup buku tersebut, Aku tahu, membaca buku harian seseorang merupakan hal yang sangat tidak sopan. Aku memejamkan mataku, berharap esok segera tiba. Aku ingin segera mengembalikan buku tersebut ke Sina.

T

Aku bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Buku tebal bersampul hijau milik Sina

aku masukkan ke dalam tasku. Beberapa menit kemudian aku tiba di kampus lalu mencari Sina. Namun, aku tidak berhasil menemukannya. Aku memutuskan untuk kembali mencarinya setelah jam kuliah selesai. Setelah jam kuliah selesai, aku melanjutkan mencari Sina. Hampir seluruh teman satu jurusan aku tanyai, namun hasilnya sama, mereka tidak melihat keberadaan Sina. Aku memutuskan untuk menemui Icha, karena dia pernah dekat dengan Sina. Mungkin saja dia tahu alamat rumah Sina.

“ Maaf ya Dis, aku tidak tahu alamat rumahnya Sina. Kamu Tanya aja sama Donnie, dia kan pernah pacaran dengan Sina, mungkin saja dia tahu alamatnya “ ucap Icha.

“ Ya udah, thanks ya Cha” ucapku .

Akhirnya aku menemui Donnie, teman satu klub taekwondoku di kampus.

“ Don kamu tahu alamat rumahnya Sina enggak ?” tanyaku pada Donnie.

“ Ngapain sich, kamu mencari Sina. Jangan-jangan dia membuat masalah lagi ya” Tanya Donnie gusar.

“ Enggak kok, aku Cuma mau mengembalikan bukunya saja”ucapku sambil mengeluarkan secarik kertas.

“ oh, begitu. Ini alamatnya, hati-hati ya, jangan sampai kamu bermasalah dengan dia “ ucap Donnie sambil memberikan secarik kertas yang berisikan alamat.

“ Makasih ya Don” ucapku . aku segera mencari alamat rumah Sina. Setelah bertanya kesana kemari, ahirnya aku berhasil menemukan rumah Sina. Lalu aku memencet bel rumah Sina. Tak berapa lama kemudian dari dalam rumah muncul seorang perempuan yang tampaknya lebih muda dari aku.

“ Selamat sore, Sinanya ada di rumah?” tanyaku sambil tersenyum.

“ Oh, mbak Sina udah 3 hari nelum pulang, tidak tahu dimana.” Ucapnya sambil mengucir rambutnya yang nampak kusut.

“ Oh, begitu ya. Nanti kalau Sina sudah pulang, tolong beritahu kalau dicari Gadis. Makasih ya” ucapku . “ Ya ampun kamu kemana sih, Sina. “ tanyaku dalam hati. Sesampainya di rumah aku mengeluarkan buku itu dari tasku. Aku sangat penasaran dengan kelanjutan isi dalam buku tersebut. Toh Sina sendiri yang memberikan buku hariannya kepadaku. Akhirnya aku melanjutkan membaca buku yang menjadi tempat curahan hati Sina.

10 April 2003

Akhirnya mama dan papa bercerai dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka memang enggak pernah mikirin perasaanku. Semua orang memang sudah enggak peduli lagi denganku.

Sekarang aku enggak punya siapa-siapa lagi. Rena selalu sibuk dengan pacarnya. Setiap aku mau curhat, dia selalu ada acara dengan pacarnya. Donnie… ugh, dasar cowok sialan!. Waktu aku butuh dia untuk menumpahkan seluruh isi hatiku, dia malah selingkuh dengan cewek lain. Dia makan bareng cewek yang udah lama naksir dia. Huuh… aku enggak tahu lagi mau curhat dengan siapa, selain nulis di buku ini….

Aku membuka dan membaca halaman demi halaman yang ditulis oleh Sina. Di setiap halamannya, selalu berisi tentang kesedihan,kemarahan dan rasa kesepian. Terkadang mataku berkaca-kaca setiap membaca tulisannya itu.

19 April 2003

Ternyata enggak semua orang cuek dengan aku, masih ada orang yang mau dengerin curhatanku. Egi memang terkenal paling ‘preman’ di sekolah, tapi dia lebih baik dibanding Rena dan Donnie. Dia mengenalkan aku ke teman-teman satu genknya. Mereka baik dan ramah. Egi memberi ide agar aku balas dendam ke Donnie, dan aku setuju dengan idenya. Rencananya aku pura-pura selingkuh dengan temannya Egi. Aku enggak sabar melihat Donnie ngerasain hal yang sama seperti aku.

Aku melanjutkan membaca buku itu. Aku ingin mengetahui, kelanjutan masalah ini.

21 April 2003

Akhirnya aku putus juga dengan Donnie. Memang itu yang aku mau. Sekarang aku enggak perlu merasa sedih lagi karena dilupakan oleh orang-orang yang aku sayangi. Hanya dengan menghirup putaw saja aku bisa melupakan semua masalah yang aku alami. Aku enggak peduli lagi, ortu yang cerai,Donnie yang selingkuh atau Rena yang sekarang Cuma bisa bilang kalau aku udah berubah. Memangnya dia pikir gara-gara siapa aku jadi seperti ini. Aku sama sekali enggak peduli dengan mereka lagi….

Aku tertegun membaca tulisan yang baru saja aku baca. Kasihan sekali Sina. Dia merasa tidak ada orang yang peduli terhadap dia. Berbeda sekali dengan aku yang selalu mempunyai teman yang baik dan selalu memperhatikan aku.

T

Sina berlari tak tentu arah, menghindar dari kejaran Gengnya Egi. Sudah 3 tahun dia bergabung dengan geng itu. Dia ingin keluar dari geng itu, karena selalu dipaksa untuk ikut mengedarkan narkoba. Sina tahu, pekerjaan itu sangat beresiko. Lagipula dia juga berusaha untuk tidak bergantung lagi dengan benda terkutuk itu. Namun, upayanya selalu saja gagal karena dia tidak tahan menahan sakit ketika sedang sakaw. Tubuhnya serasa dipukuli oleh ribuan orang, jika dia tidak mengonsumsi benda tersebut. “ Cepetan, kejar cewek itu, jangan sampai lolos” teriak Egi

dengan suara menggelegar. Sina terus berlari tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Dia tidak peduli dengan tatapan aneh orang yang dia lewati. Dia hanya ingin selamat agar tidak mati konyol dibunuh oleh Egi. Beberapa kali dia terjatuh karena lelah. Namun dia segera berdiri lagi dan berlari sekuat tenaga. Dia tidak menghiraukan teriakan dari orang-orang di sekitarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya terseret kereta api express. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera menolongnya.

T

4 Desember 2006

Tuhan, aku sudah capek terus menerus lari dari kejaran gengnya Egi. Aku tahu, aku ini hanyalah pendosa dan tidak pantas untuk meminta pertolonganmu. Tapi, aku mohon padaMU Tuhan, bantulah aku untuk lepas dari semua ini. Aku tidak ingin bergantung lagi dengan putaw. Aku hanya ingin hidup normal seperti dulu…

Ternyata tulisan yang aku baca tadi, adalah curahan hati Sina yang terakhir ditulisnya. Lalu aku membaca halaman terakhir yang ditulis oleh Sina. Rupanya tulisan itu pesan dari Sina untukku. Aku membaca tulisan itu dengan hati berdebar.

13 Desember 2006

Hai, Gadis…

Aku tahu, kamu pasti bingung karena aku memberikan buku ini ke kamu. Aku ingin minta tolong, karena aku rasa kamu satu-satunya orang yang bisa menolongku. Sudah lama aku ingin keluar dari lingkungan hitam ini. Tapi tidak ada yang bisa membantu. Kamu beda dari teman-teman yang lain. Kamu tetap ramah dan baik terhadapku walaupun aku sering bertindak sebaliknya. Kalau aku udah berhasil keluar dari lingkungan yang hitam itu, kamu mau kan jadi temanku?

Sebuah pertanyaan yang langsung bisa kujawab. Tentu saja aku mau, karena aku tahu, kalau sikap kasar Sina selama ini ke orang-orang bukan sifat dia yang sesungguhnya. Aku tersentak kaget mendengar ketokan pintu yang terdengar sangat terburu-buru. Aku segera membuka pintu.

“ Dis, nih baca Koran ini” ucap Desi sambil memberikan Koran kepadaku.

“Mahasiswi Tewas Tertabrak Kereta, Pengedar Narkoba Berhasil Ditangkap”

Aku membaca berita itu dengan seksama. Rupanya Geng Egi berhasil ditangkap oleh polisi ketika sedang mengejar Sina. Orang-orang yang dilewati Sina lah yang melaporkan kejadian tersebut ke Polisi karena curiga terhadap tingkah laku mereka yang mencurigakan. Dalam Koran tertulis Sina berlari dari kejaran geng Egi karena ingin keluar dari geng tersebut. Ternyata keinginannya untuk keluar dari geng itu benar-benar kuat. Air mataku mengalir. Aku memeluk Buku bersampul hijau itu. “Thanks ya,Sin” ucapku dalam hati. Dan Hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk Sina adalah memperlihatkan isi buku tersebut ke Donnie.

TTT

JALAN CAHAYA

JALAN CAHAYA

JALAN CAHAYA

Oleh : Nidya Fitri R.

“ Praaaang… “ terdengar suara pecahan vas bunga.

“ Ayah tuh egois ya, mau menang sendiri . Blaa…blaa… “ teriak Ibu setelah melempar vas bunganya .

“ Ibu juga terlalu sibuk dengan urusannya sendiri “ bentak ayah.

“ Hhh…, lagi - lagi Ibu sama Ayah bertengkar “ kata Mita sambil menutup buku Biologi yang sedang dibacanya.

“ Praang…bla..bla “ terdengar lagi pertengkaran antara Ibu vs Ayah. Mita pun terduduk di sudut kamarnya sambil menutup telinganya. “ Bikin semangat belajarku hilang “ kata Mita dengan mata berkaca kaca. Jam dindingnya menunjukkan pukul 08.00 malam.

“ Haloo Silvi, kita jalan-jalan yuk. Sumpek di rumah. Jangan lupa ajak Aci sama Kiki ya. Terserah mau kemana, yang penting keluar dari rumah” ucap Mita.

“Ok” jawab Silvi.

Setelah menutup telepon Mita mengganti bajunya. Dia memakai celana panjang dan T-Shirt selengan. Setengah jam kemudian “ Silvi and the gank “ pun tiba.

“ Tiiin…” terdengar suara klakson mobil Silvi. Mita pun bergegas keluar.

“ Kita mau kemana? “Tanya Mita. “ Kita ke rumah Aci. Orang tuanya sedang pergi keluar kota. Lumayankan? “ucap Silvi tersenyum misterius.

“ By the way Mit, gaya pakaian kamu kuno banget sich “ ujar Kiki. “Kamu kan tahu, aku nggak suka pakai baju yang serba mini kayak kalian. Risih rasanya “ kata Mita.

“ Kamu ketinggalan jaman banget sih Mit “ sindir Aci.

“ Terserah kamu aja deh, aku lagi nggak mau berdebat “ kata Mita dengan nada

rendah.

T

Mereka tiba di rumah Aci setengah jam kemudian.

” Ci, rumah kamu kok sepi banget sih?” Tanya Mita.

“ Kan Silvi udah bilang kalo ortuku baru keluar kota. “ ucap Aci.

“ Lho, terus kakak kamu kemana?kok nggak ada” Tanya Silvi celingukan.

“ Oh, kakakku yang culun itu baru ikut pengajian di rumah temannya. Katanya sih, sekalian nginep “ terang Aci.

“ Kamu kenapa sih, dari tadi muka kamu bete terus? “ Tanya Kiki.

“ Biasa, orang tuaku berantem lagi “ ucap Mita.

“ Makanya, kamu harus gaul terus sama kita-kita. Kamu bakal seneng terus” kata Kiki sambil mengeluarkan beberapa bungkus rokok dari dalam tasnya. Aci dan Silvi buru-buru meraih sebatang rokok lalu menyulutnya dengan api. Kepulan asap rokok keluar dari hidung dan mulut mereka.

“ Nih, kamu coba Mit. Ini salah satu cara buat ngilangin stress” kata Silvi. Mita pun meraih sebatang rokok. Dengan ragu, dia menyulutnya dengan api, kemudian menghisapnya. “ Huk…Huk..” Mita terbatuk. Silvi and the gank tertawa. “ Pertamanya emang gitu, tapi lama-lama juga enggak apa-apa kok ” kata Kiki sambil tertawa. “ Ci, mana minuman sama serbuknya? “ Tanya Silvi.

“:Nih “ kata Aci menyodorkan beberapa botol minuman keras dan putaw.

“ Lho, kalian make ya?” Tanya Mita terkejut.

“ Iya, kalo kita-kita baru pusing, kita suka make ini. Enak, bikin kita lupa sama masalah yang kita alami” terang Silvi.

“ Kamu mau Mit?” Tanya Kiki.

“ Enggak, thanks” kata Mita sambil mematikan rokok kemudian berjalan menuju beranda kamar Aci dan melihat bintang-bintang, teringat kisah orang yang disayanginya.

“ Beneran nih enggak mau? Rugi lho” kata Kiki.

“ Enggak “ tolak Mita.

T

“ Rendra, Ayah sudah bilang sama kamu, jangan pulang malem-malem apalagi mabuk-mabukan “ bentak Ayah.

“ Yah, Rendra kayak gini tuh gara-gara Ayah sama Ibu yang sering bertengkar “ teriak Rendra.

“ Dasar, anak nggak tahu malu! “ marah Ayah yang diikuti dengan tamparan dilanjutkan dengan tendangan ke seluruh tubuh putranya.

“ Udah Yah, kasihan kakak “ kata Mita sambil menangis. “ Ah, anak kecil enggak usah ikut-ikutan” ujar Ayah dengan suara meninggi. Setelah puas memukul anaknya, pria itu pergi entah kemana. Ibu masuk ke kamar seakan tak peduli. Mita pun segera membimbing kakaknya ke kamar.

“ Kak, pasti sakit banget ya kak “ ucap Mita.

“ Iya dek, sakit tapi lebih sakit lagi disini “ Kata Rendra sambil menunjuk dadanya. “ Dek, tolong ambilkan tas kakak “ ucap Rendra menahan sakit di tubuhnya.

“ Ini kak “ ucap Mita. Rendra membuka tasnya kemudian mengambil kertas-kertas lipatan kecil dan pil-pil. Bungkusan kecil itu ketika dibuka isinya berupa serbuk kemudian dia menghirupnya dengan menggunakan alat.

“ Kak, itu apa? “ Tanya Mita.

“ Ini putaw” jawab Rendra. “ Dedek jangan kayak kakak ya, suka membantah ortu,nakal, suka mabuk-mabukan, ngedrugs lagi. Cukup kakak aja yang ngalamin “ kata Rendra membelai rambut adik kesayangannya.

“ Dedek ke kamar dulu ya kak. Kakak cepetan tidur, jangan sedih terus “ ucap Mita sambil memandang lekat-lekat kakaknya.

Keesokan paginya, karena hari Mingu, Mita bangun agak siang.

“ Kak..” panggil Mita sambil membuka pintu kamar kakaknya. “ Kak, bangun udah pagi. Kak bangun… “ ucap Mita putus asa sambil mengguncang- guncang tubuh kakaknya. Di sekitar tubuh kakaknya terlihat putaw dan ekstasi yang berceceran.

“ Kak…” teriak Mita sambil menangis. Bunyi ambulans terdengar meraung-raung menusuk hatinya.

“ Kak, maafin dedek enggak bisa nolong kakak. Dedek sayang sama kakak “ ucap Mita sambil memeluk tubuh kakaknya yang sudah kaku.

T

“ Teman-teman,aku pulang duluya. Udah malem nih “ ucap Mita, ketiga temannya tampak kehilangan kesadaran akibat minuman dan obat terkutuk itu.

Keesokan paginya Mita datang ke sekolah lebih awal karena semalam tidak dapat memejamkan matanya, sedangkan “Silvi and the gank” terlambat datang. Ketika istirahat mereka mendekati Mita.

“ Mau kamu tuh apa sih Mit, ninggalin kita tadi malem “ seru Kiki sewot.

“ Kalian tadi malam udah keterlaluan. Lagian aku udah pamit, tapi kalian udah pada enggak sadar “ ucap Mita membela diri.

“ Oh ya? Kamu tuh sok suci banget sich “ potong Aci.

“ Kamu tuh nyebelin. Setiap ketemu Cuma cerita tentang ortumu yang sering berantem. Mendingan sekalian aja cerai “ teriak Silvi, membuat orang-orang di sekitarnya memandang mereka.

“ Ok. Maafin aku, bikin kalian sebal mendengarkan semua keluhanku. Aku minta maaf. Tapi sebaiknya kalian berhenti melakukan kebiasaan buruk kalian. Kalian enggak tahu apa yang terjadi sama kakakku “ ucap Mita lirih.

“ Terserah kita dong, mau ngapain aja. Kalo kamu suka ngatur-ngatur gitu, mendingan mulai sekarang kamu enggak usah berteman sama kita lagi “ kata Silvi geram. Mereka meninggalkan Mita yang terduduk di kursi kelasnya.

“ Mit, jangan sedih. Kamu masih punya banyak teman kok “ hibur Aisyah.

“ Kalo kamu punya masalah, mendingan dekatkan hatimu ke ALLAH. ALLAH pasti akan membantu kamu. Kamu ikut aja kegiatan ROHIS, kamu pasti senang “ ucap Aisyah.

“ Makasih ya, lihat nanti aja “ kata Mita dengan tatapan kosong.

Sesampainya di rumah, Mita terkejut mendengar kabar berita ortunya yang mau cerai.

“ Sekarang ayah dan ibu kemana mbak? “ tanya Mita kepada mbak Yanti, pembantu di rumahnya.

“ Bapak enggak tahu pergi kemana, kalau Ibu ada tugas di Surabaya. Ibu pergi ke bandara 1 jam yang lalu “ ujar mbak Yanti. Mita sangat sedih, akhirnya dia menyendiri di kamar.

T

Hari Jum’at pun tiba. Mita memutuskan ikut kegiatan Rohis.

“ Ternyata enak ya ikut Rohis. Orangnya ramah-ramah, suasananya damai nggak seperti di rumah, sholatnya berjamaah lagi. Pokoknya enak “ tutur Mita bahagia.

“ Wah, ternyata kamu bisa juga ketawa “ canda Aisyah.

“ Emangnya selama ini aku enggak pernah ketawa ya ? “ Tanya Mita

“ Iya, kamu selalu kelihatan murung. O iya, emangnya di rumah kamu enggak pernah sholat berjamaah ya? “ Tanya Aisyah.

“ Jangankan berjamaah, keuargaku tuh enggak pernah sholat. Dulu, yang ngajarin aku sholat itu kakekku. Dulu, sewaktu kakekku masih hidup aku sering sholat berjamaah dengan kakek dan kakakku. Tapi, sekarang mereka udah enggak ada, aku jadi jarang sholat” sesal Mita.

“ Oh, tapi yang penting mulai sekarang kamu bakal rajin sholatkan?” ucap Aisyah.

“ Pasti dong. Aku akan mendoakan supaya ortuku rukun serta Kakek dan Kakakku bahagia disana “ ucap Mita dalam hati.

Semenjak ikut kegiatan Rohis kehidupan Mita berubah. Dia terlihat ceria dan lebih tabah. Imannya pun bertambah kuat. Hamper setiap malam dia sholat tahjud. Orang tuanya terkejut melihat perubahan perilaku putrinya. Akhirnya ALLAH mengabulkan permintaan Mita. Orang tuanya tidak jadi bercerai. Selain itu, mereka sering sholat berjamaah .

“Ya ALLAH, tuntunlah umatMU yang lain menuju ‘Jalan CahayaMu”. Amien…

SEBUAH MOMENT UNTUK DIINGAT

PERSAHABATAN

SEBUAH MOMENT UNTUK DIINGAT

by : Nidya Fitri Rahayu

“ Uh, mau pulang rasanya males baget apalagi di rumah enggak ada orang” ucap Luna kembali lagi ke dalam sekolah. Lalu, Luna tertegun di depan kelasnya yang sudah mulai sepi.

“Daaaa….! Ngapain Na, kok kamu bengong gitu sich? Enggak pulang ?” tanya Chika.

Iya nih, aku males pulang, di rumah enggak ada orang. Emangnya kamu mau nganterin aku ya? “ goda Luna cengengesan.

“Ih, sorry ya, rumahmu tuh jauh banget, berat di bensin tahu. Aku pulang dulu ya, selamat nunggu jemputan, bye…” ucap Chika centil.

“Huh dasar, Pulang sana!” kata Luna sambil tertawa.

Suasana sekolah sudah sepi, tetapi Luna masih duduk di depan kelas. Seperti biasa dia selalu menunggu papanya yang selalu terlambat menjemput. Suasana sekolah yang sudah sepi membawa Luna kembali teringat dengan seorang sahabatnya di SMP. Saat itu Luna mempunyai sahabat yang baik. Mereka mulai bersahabat sejak kelas 1 SMP, ketika mereka satu kelas. Tori namanya. Sejak kelas 1 hingga kelas 3 mereka selalu satu kelas sehingga mereka terlihat lebih akrab dibanding teman yang lain. Luna tersenyum geli ketika teringat dia minta ditraktir oleh Tori gara-gara Tori meminjam buku Biologinya yang sangat tebal.

“ Kamu matre banget sih Na! “ kata Tori.

“ Biarin, buku biologiku kan berat, apalagi buku ini khusus aku bawain buat kamu. Emangnya aku Cuma kebagian beratnya aja apa! Weeek!” Canda Luna kemudian menjulurkan lidah.

Lamunan Luna buyar ketika mendengar ringtones “Jadikan Aku Raja” milik ADA BAND dari hpnya. Ternyata mamanya menelepon, kalau hari ini Papanya tidak dapat menjemput .

T

“Akhirnya, besok libur puasa deh. PRnya banyak banget “ kata Luna dalam hati. Setelah sholat kemudian Luna mengerjakan PR. Setelah itu ikut bimbel. Hampir setiap hari kegiatan Luna selalu begitu. Selalu menyibukkan diri. Namun dibalik kesibukannya terkadang dia teringat betapa indah persahabatannya dengan Tori. Hampir 2 tahun mereka kehilangan kontak. Luna ingin main ke rumah Tori, tapi dia tidak tahu alamat rumahnya. Jadi dia Cuma bisa sms Tori. Tapi, sms yang dikirim selalu gagal terkirim. Mungkin mereka memang belum diijinkan bertemu lagi oleh Tuhan. Akhir-akhir ini Luna sering menerima miscall dari nomor yang tidak dikenalnya. Tetapi, dia tidak punya keberanian untuk menelepon kembali. “ Ah, paling Cuma temenku yang iseng” ucap Luna dalam hati. Namun lama kelamaan miscal dari nomor ini sudah mulai mengganggu pikirannya. Luna sangat penasaran siapa sebenarnya orang yang sering miscal-miscal. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon kembali nomor tersebut menggunakan privat number.

“ Halooo” terdengar suara berat cowok yang mengangkat telepon.

“ Hmm… bisa bicara dengan Kiki?” Tanya Luna dengan sopan.

“ Kiki siapa ya? Kayaknya kamu salah sambung deh” ucap cowok itu dengan nada bingung.

“ Eh, kalo gitu maaf ya ” ujar Luna dengan cepat lalu menutup teleponnya.. Sejenak Luna berpikir, mengingat suara cowok tadi. “ O ternyata selama ini Tori yang suka miscal aku.” Ucap Luna kepada dirinya sendiri. “ Ternyata no HP Tori udah ganti. Dia pikir aku lupa sama suaranya apa “ ucap Luna sambil tersenyum puas. Dia teringat ketika lulus SMP dia dan Tori tukar menukar kado. Luna memberi Tori kado Komik pengetahuan, sedangkan dia diberi teddy bear oleh Tori. Luna teringat betapa senangnya dia saat itu. Luna juga ingat ketika dia dan Tori janjian datang ke SMPnya, memberikan informasi dimana mereka bersekolah sekarang. Itulah pertemuan mereka yang terakhir, kira-kira 2 tahun yang lalu. “ kamu sekarang seperti apa ya, apa masih seperti yang dulu? “ tanya Luna dalam hati. Kalau boleh jujur, sebenarnya Luna suka Tori, bahkan sampai sekarang perasaan itu masih ada. Kata teman dekat Tori, sebenarnya Tori juga suka Luna. Tapi, mereka memang sama-sama pemalu, jadi keduanya segan untuk mengatakannya. Tetapi, sekarang mereka sudah berbeda sekolah. Saat itu Luna mendengar kabar dari seorang teman dekatnya, kalau Tori sudah punya pacar. “ Ya udah, aku juga ikut senang kok, kalo dia juga senang “ begitu ucap Luna. Jaim banget, padahal dia udah mau nangis denger berita itu.

T

Ketika Luna sedang membaca majalah terdengar suara bayi tertawa dari HPnya. “ Oh, sms dari Tori. Kok masih belum ngaku juga sih” ucap Luna lirih sambil berbaring di tempat tidurnya. Lalu Luna membalas SMS dari Tori

“ Kamu Tori kan? Kenapa sih nggak pake ngaku segala. Aku udah tahu semuanya kok. “ lalu memencet tanda send. Beberapa waktu kemudian ada balasan dari Tori

“ Iya deh, aku ngaku. Sorry ya… Kita kan udah 2 tahun nggak ketemu. Masa’ kamu nggak kangen sama sahabatmu ini sih “ . Lalu Luna membalas SMS itu lagi.

“ Iya, aku kangen sama sahabatku yang ‘komik’ banget kayak kamu. Masa’ aku lupa sih..” lalu menekan tombol send. Mereka asyik ber sms ria.

Liburan pun telah usai. Luna kembali bersekolah dengan lebih semangat karena telah menemukan lagi orang yang selalu membuatnya bahagia.

“ Eh, Na kamu tahu nggak kalo si Tori udah punya pacar? “ Tanya Chika, salah satu sahabat Luna semenjak SMP.

“ Iya, aku udah tahu kok “ ucap Luna sambil tersenyum menutupi rasa kecewanya. Sesampainya di rumah, Luna menangis di kamarnya. Untung saat itu semua orang di rumah sedang bepergian. Dalam hati dia berjanji akan melupakan rasa sukanya terhadap Tori, dan menganggapnya sebagai sahabatnya yang paling pengertian.

T

Tori mulai sering menelepon dan Sms Luna. Luna bingung bagaimana harus bersikap terhadap Tori. Karena dia sudah berjanji untuk menganggap Tori sebagai sahabatnya. Tapi, jika keadaannya seperti ini terus menerus hal itu sulit diwujudkan. Luna membaca Sms dari Tori,

“ Aloo.. cahabatku sayang, kamu baru ngapain? Udah makan belom? Besok malem minggu kita ketemuan yuk, kangen-kangenan. Aku kangen banget nih sama

kamu “.

“Kamu kok gitu sih, doi kamu nanti cemberu loh, masa’ malem mingguan kamu malah sama aku “ balas Luna lalu memencet tanda send.

Terdengar suara bayi tertawa, Tori membalas sms dari Luna

“Enggak kok. Aku udah putus sama cewekku. Sekarang baru jomblo nih. Kamu boleh kok kalo mau daftar jadi kandidat berikutnya.he3x. Ketemuan di tempat kita dulu suka main yuk, jam 7 malem, nanti kamu aku jemput ya. Tenang aja, pulangnya aku anter sampe rumah deh “.

“ OK “ balas Luna.

Hari yang ditunggu-tunggu Luna pun tiba. Luna terlihat lain dari biasanya, wajahnya terlihat sangat bahagia dan berseri-seri. Chika juga merasakan perubahan Luna.

“ Na, kamu kenapa sih kok kelihatan seneng banget? “ Tanya Chika. Luna hanya menjawab pertanyaan Chika dengan senyuman. Chika semakin penasaran.

“ Ya udah deh, aku tunggu ceritanya besok Senin ya” ucap Chika lagi.

Luna mengelap keringat yang jatuh didahinya. Udara yang panas membuatnya pusing. Namun, dengan semangat dia berjalan agar cepat sampi di rumah dan menyiapkan baju yang akan dipakainya nanti malam. Ketika menyebrang Luna tidak sadar di kejauhan ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

“ Ciiiiiit…” suara decitan ban mobil.

Tubuh Luna terkapar di tengah jalan. Orang-orang hanya melihatnya dari kejauhan dan tak ada yang berani mendekat. Tubuh Luna tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Tiba-tiba Luna merasa tubuhnya seperti melayang. Dan gadis itu pergi untuk selamanya meninggalkan orang-orang yang disayanginya.

T

“ Luna, aku udah kangen banget sama kamu. Hari ini aku pengen bilang kalau aku sayang kamu, tapi bukan sebagai sahabat tapi sebagai cewek yang aku cintai. Semoga kamu mau nerima aku jadi pacarmu “ ucap Tori dalam hati.

Hari ini, Tori tampil lebih rapi hanya untuk Luna.

“ Ma, Tori pergi dulu ya, doain biar Tori sukses ya Ma “ ucap Tori sambil mengecup tangan Mamanya.

Mamanya tersenyum melihat tingkah anak bungsunya tersebut. Tori segera menuju ke rumah Luna. Sesampainya di rumah Luna, Tori bingung karena rumah Luna dipenuhi orang yang memakai baju hitam. Tori pun masuk ke ruang tamu, tempat diletakannya jasad Luna yang telah kaku. Tori melihat jasad itu lebih dekat, lalu duduk termenung melihat sahabat sekaligus orang yang dicintainya itu mengukir senyum di wajahnya.

TTT

Sabtu, 25 April 2009

Cinta Partenope

Cinta Partenope

Alkisah, ada seorang pemuda yang bernama Cimone jatuh cinta pada seorang gadis Yunani. Gadis itu cantik jelita seperti Dewi Yuno dan Dewi kecantikan Minerva. Dahinya Indah, matanya hitam dan besar, mulut mungil, dan kulit putih berseri. Kata orang hanya dewi – dewi saja yang memiliki kecantikan seperti ini,. Partenope, itulah nama gadis Jelita ini, yang dalam bahasa Yunani berarti “gadis” atau “perawan”. Rupanya Cimone tidak bertepuk sebelah tangan. Partenope pun membalas cinta kasih Cimone.

Namun cinta mereka terhalang restu dari ayah Partenope. Partenope telah dijodohkan dengan seorang pemuda yang tampan dan kaya raya. Cimone adalah seorang yatim piatu yang dan baik hati. Partenope jatuh hati pada Cimone karena kebaikannya, seperti saat menolong seorang nenek pengemis yang kelaparan. Cimone memberikan makanannya ke nenek itu, padahal makanan tersebut untuk makan malamnya. Sejak saat itulah cinta kasih Cimone dan Partenope tumbuh dengan sucinya. Mereka memadu kasih tanpa sepengetahuan ayah Partenope. Ayah Partenope tidak menyukai Cimone karena menganggap dia hanyalah pemuda yang tidak tahu sopan santun dan miskin. Namun, hal itu tidak menyebabkan Cimone menjauhi Partenope.

Pada suatu malam bulan purnama, Cimone dan partenope memadu kasih.

“ Partenope, sudikah Dinda mengikuti kanda?”

“ Tentu saja. Aku rela berangkat sekarang juga, Cimone.”

“ Bukankah Ayahandamu telah menjodohkanmu dengan pemuda Emeo? “

“ Tapi aku hanya mencintaimu, Cimone.”

“ Yakinkah kau, Partenope? Akan berbahagiakah kau jauh dari orang

tua,sanak saudara dan kampong halamanmu? “

“ Aku yakin, Cimone. Mari kita segera berangkat. “

“ Kita akan pergi jauh Partenope, mengarungi lautan, menempuh gelombang dahsyat, tanpa harapan akan kembali. Entah apa, nasib peruntungan yang menanti kita di masa depan. “

“ Mari kita segera berangkat Cimone, saya sudah siap dan rela .”

Demikianlah, Partenope dan Cimone berangkat mengarungi lautan dahsyat dengan bekal kasih sayang.

Saat mengetahui putrinya pergi dengan Cimone, ayahanda Partenope sangat marah. Dia menyuruh seseorang untuk mencari putrinya dan membawanya pulang kembali serta membunuh Cimone. Sang pesuruh pun mencari tahu kemana perginya Cimone dan Partenope. Sementara itu, dengan menumpang kapal penangkap ikan, Cimone dan Partenope menuju ke tempat yang penuh harapan. Disana mereka akan hidup dengan bahagia. Dan akhirnya, tibalah mereka di pantai Platamonia, berbekalkan cinta, untuk menabur kasih di pantai harapan. Kemana pun mereka pergi, mereka selalu diliputi perasaan bahagia. Alam di sekitar mereka pun menjadi cerah. Saat fajar menguak, pagi hari pada musim semi, di kala tanaman mulai tumbuh, sewaktu kuncup bunga mulai merekah, Cimone dan Partenope selalu menyebarkan suasana hidup yang baru dan cerah. Demikianlah Cimone dan Partenope menabur cinta, menciptakan kehangatan, habis musim berganti musim. Dan Cimone dan Partenope hidup bahagia dengan kelima buah hatinya .

Sementara itu, orang suruhan ayahanda Partinope setelah bertanya pada orang – orang di pelabuhan dan perahu nelayan yang dulu Ditumpangi oleh Cimone dan Partenope, akhirnya dapat menemukan Cimone dan Partenope. Dia pun menyusun rencana untuk memisahkan mereka. Dia menyamar sebagai seorang pengembara. Dengan segala tipu muslihatnya orang suruhan tersebut berhasil menipu Cimone agar mau berburu dengannya. Cimone pun akhirnya menerima ajakkannya. Orang suruhan ayahanda Partenope pun mengajak Cimone ke hutan dengan alas an berburu untuk makan malam. Di hutan, Cimone dibunuh. Setelah itu, Orang suruhan tersebut membawa jasadnya pada Partinope. Setelah mengetahui orang yang dicintainya telah tiada Partinope sangat sedih. Air matanya terus menerus keluar hingga kering tak bersisa lagi. Separuh hatinya telah mati terkubur bersama jasad Cimone. Di pusara Cimone, Parinope mengucapkan janjinya.

“ Suamiku Cimone yang kucintai. Hanya kaulah cintaku. Cintaku akan selalu ada untuk mengenang dirimu. Aku tidak akan mencintai orang lain selain dirimu. Percayalah cintaku, kau tak akan terganti oleh siapapun. Aku akan menemui ayahku. Namun, aku berjanji akan kembali lagi hanya untukmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan menjaga buah hati kita dengan baik, seperti saat kau menjaga diriku.”

Setelah itu, dia bersama kelima buah hatinya dan seorang suruhan ayahandanya pun pergi menemui ayahandanya.

“ Anak – anakku, kalian akan segera bertemu dengan ayahanda dari Ibunda. Bersikap baiklah pada beliau “

“ Baik ibunda, ananda dan adik – adik akan bersikap baik kepada beliau “

“ Berilah contoh yang baik kepada adik – adikmu, sayang “

“ Iya Ibunda, ananda akan selalu ingat pesan ibunda “

Beberapa waktu kemudian, mereka tiba . Partenope memandang pulau yang penuh kenangan indah bersama Cimone dengan sedih. Namun, dia berusaha agar air matanya tidak menetes. Dia khawatir jika buah hatinya ikut bersedih.

“ Ayahanda, Ananda telah pulang sesuai dengan keinginan ayahanda”

“ Kau benar – benar bodoh Partenope! “

“ Maafkan ananda, ayahanda. Ananda sangat mencintai Cimone. Cimone adalah cinta sejati Ananda “

“ Bagaimana bisa kau memilih pemuda miskin yang tidak tahu sopan santun itu dan menolak calon suami yang ayahanda pilihkan untukmu? “

“ Ananda sangat mencintai Cimone. Cimone adalah sebagian dari hati ananda. Ananda tidak memerlukan banyak harta. Ananda tidak akan bahagia dengan hidup penuh kemewahan namun tidak ada cinta. Ananda lebih bahagia hidup sederhana dengan orang yang benar-benar ananda cintai “

“ Baiklah putriku, jika memang itu yang bisa membuatmu bahagia. Namun, jangan pernah menyesali keputusanmu itu “

“ Tidak ayahanda. Ananda tidak akan pernah menyesali keputusan yang telah ananda pilih. Ananda tahu Ayahanda sangat membenci Cimone dan menyuruh orang itu untuk membunuhnya. Cimone memang telah tiada, namun meninggalkan buah hati yang sangat ananda cintai. Ananda berharap Ayahanda tidak membenci mereka. Ananda membawa kelima buah hati ananda dengan Cimone “

Ayahanda Partenope sangat terkejut mendengar kata-kata Partenope. Hatinya pun luluh ketika melihat buah hati putrinya yang lucu – lucu dan pintar.

” Cucu – cucuku. Kemarilah, kakek ingin memeluk kalian “

“ Kakek… “

Setelah beberapa hari menginap, Partenope menyampaikan keinginannya untuk kembali ke pulau Platamonia. Dia ingin memenuhi janjinya kepada kekasih hatinya.

“ Baiklah anakku. Ayahanda akan menyuruh beberapa budak dan pengawal untuk membantumu disana. Jagalah dengan baik dirimu dan cucu – cucuku “

“ Baik, terimakasih ayahanda “

Rombongan tersebut pun menuju ke pulau Platamonia. Di pulau itu, mereka hidup dengan aman dan damai. Di situ pulalah anak cucu Cimone dan Partenope berdiam, turun temurun. Tanah yang lengang telah menjadi kota yang tentram dan indah. Bukitnya yang permai, dan landai menurun menuju pantai di teluk yang menjadi ramai di singgahi perahu dari segala penjuru dunia. Para nelayan berkerumun di pesisir, saat pulang membawa hasil laut. Anak negeri selalu berdendang riang memuji keindahan alam dan melagukan senandung cinta. Semua ini berkat jasa dan limpahan kasih Partenope. Untuk mengenang Partenope, di kota ini rakyat membangun dua kuil sebagai persembahan bagi dewi pelindung kota, yaitu Dewi Seres dan Dewi Venus.

Sekarang, kota ini adalah kota Napoli . Cimone dan Partenope telah menciptakan kota Napoli yang permai dan abadi. Banyak orang yang mengatakan pusara Partenope ada di dataran tinggi San Giovanni di tengah kota Napoli, dimana kaki bukit - bukit berpadu dengan pantai Teluk Napoli. Ada lagi yang mengatakan bahwa pusara itu terletak di dataran tinggi kota Napoli. Namun, menurut legenda, pusara Partenope tidak ada, sebab Partenope tidak mati, ia masih hidup sampai lima ribu tahun. Partenope hidup sepanjang masa. Partenope selalu hadir di kota ciptaannya. Partenope hadir saat cuaca musim semi yang cerah dan bumi yang menghamburkan kehangatan, pohon dan dahan yang bersemi serta kuncup bunga merekah. Dalam angin sejuk yang bertiup sepoi – sepoi basah, disitu hadir Partenope. Ia selalu hadir menikmati kota yang diciptakannya dengan kasih dan cinta. Partenope tidak pernah mati sebab Partenope adalah cinta. Cinta itu akan selalu abadi dan hidup sepanjang masa. Cinta tidak akan pernah hilang terhapus waktu dan jarak.

tentang diriku

nidya adalah seorang anak yang sangat suka berkhayal dan menulis hasil dari khayalannya tersebut. nidya sangat ingin menjadi seorang cerpenis/novelis yang sukses seperti Dee. disinilah tempatnya belajar dan mencurahkan semua isi hati nidya. kritik dan saran sangat diperlukan ... terimakasih