Jumat, 20 Agustus 2010

Untuk Jodohku

kenapa ya pacaran itu rumit? lebih banyak sakit hatinya daripada bahagianya.Padahal dulu aku punya janji ama diri aku sendiri, pacaran sekali aja itu pun kalo udah sangat yakin sama orang yang memang bener-bener sayang ama aku. Aku pengen pacar pertamaku itu ya yang jadi suamiku nanti. Tapi kenapa jadi kayak gini??? aku nerima seseorang jadi pacarku tanpa tahu asal usu, sayang apa cuma main2 ama aku. Aku serampangan banget dan terkesan gampangan. tapi aku juga bingung dan ga tahu alasannya kenapa aku nerima dia. Kadang kalo aku berandai andai seandainya kalo aku putus. Mungkin bagi dia itu bukan masalah besar. Dan kalau ini terjadi aku juga ga bisa apa-apa. sedih memang, karena ketika aku udah sayang banget ama seseorang maka orang itu akan selalu muncul di hidupku bisa lewat mimpi atau lamunan atau entahlah..tapi aku punya janji lain sebagai penebusnya.. aku akan serius dengan kuliah/pekerjaanku sampai jodohku datang menjemputku.
Kadang aku menyesal sekali kenapa aku harus pacaran.. dan betapa iri hatinya aku pada muslimah-muslimah diluar sana yang memiliki janji pada diri sendiri untuk tidak berpacaran dan setia dengan jodohnya. indah sekali... aku juga pengen.. tapi aku udah terlanjur pacaran.. dan enggak tahu dia jodohku apa bukan. kalau bukan, maka aku merasa bersalah dengan jodohku yang dari Allah... aku melakukan kesalahan, aku enggak sabar menanti jodohku datang menjemputku.. maafkan aku jodohku, aku tidak setia padamu..
>>> untuk jodohku yang entah berada dimana.. maafkan aku sayang.. maaf karena aku tidak sabar menunggumu..semoga kamu selalu setia menungguku... aku selalu menunggumu.. cepatlah temukan aku... semoga kita bisa ketemu.. amien..

Minggu, 02 Mei 2010

KAU DAN KEAJAIBAN KECILMU

“ Jam 4 lewat 25 menit” gumamku. “ Huh, lagi-lagi telat jemput” keluhku sambil membetulkan letak tas punggungku. Langit di sekitarku tampak kelam. Beberapa waktu kemudian, hujan turun deras. Aku berteduh di bawah tenda orange yang ada di depan tempat lesku. Di kejauhan terlihat seorang gadis kecil berlari sambil menjinjing sebuah keranjang. Baju gadis kecil itu basah kuyup. Saat tiba di tempatku berteduh, dia tersenyum manis ke arahku. Aku pun membalas senyumannya. Gadis kecil itu duduk di sebelahku sambil menggigil. “ Kamu kedinginan ya dik?” tanyaku membuka pembicaraan. “ Iya, mbak..” ucapnya sambil tersenyum. “Namaku Lilin” ucapku memperkenalkan diri. “ Kamu bawa apaan sich?” tanyaku penasaran. “ Oh, ini roti buatan tetangga Nisa. Nisa Cuma bantu jualan, mbak” ucapnya. “ Waaah… Kamu hebat ya, kecil-kecil udah bisa bekerja” ucapku kagum. “ Nisa Cuma pengen bantu ibu aja kok mbak, karena ibu sering sakit-sakitan. Sebenarnya Nisa juga ingin seperti anak-anak lain, bisa main, sekolah..” Nisa tak lagi melanjutkan kata-katanya. “ Lho, terus ayah kamu dimana?” tanyaku tak mengerti. “ Ayah pergi meninggalkan Nisa dan ibu waktu umur Nisa 5 tahun” ucapnya lirih. Aku menyentuh pundaknya, tanda simpati. “ aku beli rotinya 3 ya…” ucapku mengalihkan pembicaraan. Nisa pun menyodorkan roti pesananku. “ Ini uangnya” Kusodorkan selembar uang 5000. “ Kembaliannya buat kamu saja” ucapku. “Makasih ya, mbak Lilin” ucapnya senang. “ umur kaamu berapa?” tanyaku. “ Umur Nisa 9 tahun mbak” jawab Nisa. “ Eh, Nisa udah dulu ya, mbak Lilin sudah di jemput. Kapan-kapan kita ketemu disini lagi ya” ucapku sambil melambaikan tangan. Gadis kecil itu pun membalas lambaianku.
@@@

“ Ma, kasihan deh, tadi sore aku ketemu anak umur 9 tahun yang udah cari uang sendiri” ucapku. Akupun menceritakan kejadian tadi sore kepada mama. “ Makanya Lin, kamu harus bersyukur, selama ini semua keinginan kamu selalu terpenuhi” ucap mama. “ Iya ma, Lilin juga tahu selama ini apa yang Lilin mau selalu terpenuhi. Padahal diluar sana masih banyak anak-anak yang enggak seberuntung Lilin” ucapku dengan mata menerawang. “Nah, jadi sekarang kamu enggak boleh manja lagi ya” ucap mamamenggodaku. “ ahh… Mama” ucapku tersenyum malu. Aku memang sering terkena sindrom ini. Teman-temanku menyebutnya ‘Sindrom anak tunggal’. Aku memang anak tunggal, semua yang aku inginkan selalu terpenuhi. Selain itu, orangtuaku juga over protektif. Ke sekolah diantar jemput, padahal aku sudah kelas 3 SMA. Kalau pergi bersama Sasa, Fitri dan Andra pun masih dalam pengawasan ortu. Hampir 15 menit sekali pasti mama telepon ke HPku. Kadang aku merasa tidak enak dengan teman-teman karena sikap ortuku yang over protektif ini. Keesokan harinya, di kantin aku menceritakan kejadian kemarin sore kepada ketiga sahabatku Sasa, Fitri dan Andra. Kami bersahabat sejak kelas 1 SMA. “ Wah hebat ya, kecil-kecil udah bisa bantu orang tua” seru Fitri kagum. “Iya Fit, enggak kayak kamu kerjanya Cuma minta melulu sama orangtua” canda Sasa. Fitri tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Menurutku biasa aja tuh. Di dunia ini buakan Cuma dia yang bisa kerja walaupun masih kecil” ucap Andra sinis. “Huuuu….” Seru kami serentak. “Ndra, emangnya kamu mau nawarin roti yang kamu jual ke orang-orang. Kamukan orangnya gengsian”ucapku tersenyum jahil mendengar perkataanku Andra langsung cemberut. Aku dan teman-teman tertawa geli melihatnya. “Nanti sore kan malem Minggu, kita jadi enggak cari buku ntuk tugas dari Bu Lely? “tanya Fitri. “ Jadi dong!” seru kami kompak.
@@@

“Ma… boleh ya?” pintaku merajuk. “Lilinkan cari buku untuk mengerjakan tugas dari bu Lely. Boleh ya? Please ma…”ucapku. “ Ya udah, tapi jangan malam-malam ya pulangnya” jawab mama. “ Lilin pergi dulu ya ma” pamitku. Beberapa menit kemudian kami telah tiba di toko buku terbesar di kota kami. Kami segera mencari buku yang dibutuhkan. Setelah mendapatkan buku, kami bergegas pulang. Di luar hujan turun sangat deras. Kami berlari masuk ke mobil Andra. Di tengah perjalanan pulang, aku melihat seorang gadis kecil yang sedang berteduh sambil menggigil kedinginan. Aku mengenal gadis kecil itu. “Nisa” seruku. “Ndra stop Ndra” ucapku. “ Kenapa sich Lin?” tanya Andra kesal. Itu Nisa, kita anterin dia pulang yuk”kasihan kayaknya dia lagi sakit”ucapku. “Males ah, biarin aja.”ucap Andra. “Andra, ayo dong masa kamu tega sich” ucapku merajuk. “Ok deh” ucapnya mengalah. Aku berlari menghampiri Nisa. “Nisa, mbak anter kamu pulang ya..” ucapku. “Makasih mbak, tapi Nisa enggak mau ngerepotin mbak”ucapnya. “Nggak ngerepotin kok, ayo” ucapku sambil menggandeng tangannya. “Rumah kamu dimana?”tanyaku. “Deket stasiun mbak”ucapnya lirih. “Kamu sakit ya dik?” tanya Fitri. “Iya mbak, badan Nisa enggak enak”ucapnya. “Nih pake jaket mbak Lilin dulu” ucapku sambil menyerahkan jaket biru kesayanganku. “Makasih mbak”ucap Nisa. Tak lama kemudian kami tiba di rumah kecil yang sangat sederhana. “Nis, besok mbak boleh main ke rumahmu kan? Tanyaku”. “Iya mbak. Makasih ya kakak-kakak sudah mengantar aku pulang” ucap Nisa sambil tersenyum ke arah kami. “Iya, sama-sama” jawab kami.
@@@
“Ma, Lilin tadi ketemu Nisa. Trus, Lilin anterin pulang. Kasihan Ma, sedang sakit tapi masih jualan “ ucapku. “ Iya, kasihan “ ucap mama bersimpati. “Ma, besok Lilin boleh ke rumah Nisa ya “ucapku manja. “Iya, tapi mama anterin “ ucap mama. Keesokan harinya, aku menyiapkan semua barang yang akan kubawa. “Ya ampun, kamu mau pergi apa pindahan sich” ucap mama heran. “Ma, Nisa baru sakit jadi Lilin bawain bubur dan obat. Terus, Lilin bawain juga jaket yang udah kekecilan. Kasihan ma, dia enggak punya jaket” ucapku panjang lebar. Lalu, aku bawa semua barang-barang itu ke mobil. Kemudian aku dan mama pergi ke rumah Nisa. “Lin, mama tinggal ya. Nanti kalau mau pulang telepon mama” pesan mama setelah tiba di rumah Nisa. “Iya, ma” jawabku pendek. Aku turun dari mobil sambil membawa barang-barang bawaanku. “Assalamu’alaikum” ucapku. “Walaikumsalam” balas seorang wanita dengan suara lemah. Dari dalam rumah muncul seorang wanita berwajah pucat. “Bu, Nisa ada?”tanyaku. “Ada nak, tapi rumahnya kotor” ucapnya seraya menuju ke sebuah ruangan sempit. “Tidak kok bu” ucapku. “Nis, ada yang nyari kamu” ucap ibunya kepada Anisa yang sedang tiduran diatas ranjang yang sudah tua. “ Hai Nis” sapaku. “Mbak Lilin” serunya terkejut. “Nih mbak bawain bubur dan obat untukmu”ucapku sambil meletakkan barang yang aku bawa di atas meja di depanku. “Terimakasih ya mbak”ucapnya senang.”O iya, kamu enggak punya jaketkan?Nih, mbak bawain jaket mbak yang udah kekecilan. Masih bagus kok” ucapku sambil memakaikan jaket ke tubuhnya supaya hangat. “Sekarang, buburnya dimakan dulu, lalu obatnya di minum. Apa mau mbak suapin?”tanyaku. “Enggak usah mbak, Nisa bisa sendiri kok” ucapnya sambil duduk. “Mbak Lilin, baik banget sich ke Nisa?”tanyanya heran. “Sejak mbak ngelihat kamu, mbak ngerasa kamu adik mbak. Dari dulu mbak ingin punya adik, tapi karena suatu hal keinginanku enggak bisa terwujud. Kamu mau kan jadi adikku?”tanyaku penuh harap. “Iya mbak, Nisa mau”ucapnya tersenyum kemudian memelukku. “ Kalau begitu mulai sekarang panggil mbak Lilin Kakak ya?pintaku. “ Iya, kak”ucapnya senang. “Nis, kamu enggak keberatan kan kalo kakak sering kesini?”tanyaku. Nisa membalas pertanyaanku dengan anggukan. “ Kalau begitu, nanti kakak ajarin pelajaran kayak di sekolah, mau kan?”tanyaku. “Iya kak, Nisa mau banget” ujarnya bersemangat. Sejak saat itu, hampir setiap hari aku mengunjungi Nisa, adikku tersayang.
@@@

“ Lin, sekarang kamu jarang main sama kita. Pasti gara-gara Nisa ya?” ucap Andra ketus. “Ndra, jangan marah dong, kalian tetep sahabatku yang paling baik kok. Aku janji deh akan main bareng lagi kayak dulu” ucapku. “Iya Lin, nggak papa kok Andra jangan kamu dengerin”hibur Sasa. “ Btw Lin, udah 4 bulan ini kamu berubah loh, nggak manja lagi trus keliatan lebih dewasa lagi enggak kayak dulu”ucap Fitri. “Fit, kamu muji apa nyindir sich. Iya, ini semua karena pengaruh dari Nisa. Aku belajar untuk mandiri. Bagiku, Nisa seperti peri kecil yang membawa keajaiban di hidupku”ucapku panjang lebar. “Iya deh, yang punya adik baru” seru Fitri dan Sasa bersamaan sambil tertawa. “Ndra, jangan cemberut lagi dong. Wajahmnu kayak nenek sihir kalo cemberut”candaku. Akhirnya Andra tersenyum karena malu.
@@@

Sore harinya, aku berjanji untuk bertemu dengan Nisa di Tenda orange di depan tempat lesku. “Hai Nis. Kakak anterin yuk” ajakku sambil menggandeng tangannya. Ketika aku dan Nisa menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah utara. Spontan, kupeluk tubuh mungil Nisa agar terhindar dari hantaman keras mobil itu. Aku dan Nisa jatuh terpental. Kepalaku terbentur keras ke jalan aspal. Aku segera bangkit, untuk melihat keadaan Nisa. Syukurlah, Nisa hanya lecet-lecet. Disampingnya, ada tubuh seorang gadis yang bersimbah darah sedang memeluk Nisa. Ternyata, setelah kupaerhatikan gadis itu adlah aku. Kupandang tubuhku dengan perasaan sedih. Orang-orang berdatangan untuk melihat keadaanku dan Nisa. Hari in banyak yang mengunjungi rumahku. Tepatnya datang ke pemakamanku. Aku melihat keadaan sekitarku. Mama menangis tersedu dan Papa menerima tamu-tamu yang ikut berkabung. Nisa dan ibunya duduk disamping mamaku. Andra,Fitri dan Sasa berdiri menatap tubuhku yang telah membeku ini dengan sedih. “Bu, saya harap Nisa bisa menganggap saya seperti ibu dan ibu seperti saudara saya. Selama ini, Lilin sudah menganggap Nisa sebagai adik kandungnya. Dia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang kakak hingga..” mama tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ibu Nisa mengiyakan permintaan mama. Aku tersenyum bahagia melihat kejadian itu.

Minggu, 11 April 2010

Untukku... ( for my lover)

Kahitna – Untukku


Disaat engkau disana

Kadang langit terasa gelapnya


Kemana langkahku pergi

Slalu ada bayangmu

Ku yakin makna nurani

Kau takkan pernah terganti

*Courtesy of IndoTopHits.com

Saat lautan kau sebrangi

Janganlah ragu bersauh

Ku percaya hati kecilku

Kau takkan berpaling


Reff:

Walau keujung dunia, pasti akan kunanti

Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu

Karena ku yakin, Kau hanya untukku


Saat lautan kau sebrangi

Janganlah ragu bersauh

Ku yakin makna nurani

Kau takkan pernah terganti


Pandanglah bintang berpijar

Kau tak pernah tersembunyi

Dimana engkau berada

Disana cintaku


*back to reff*


Disaat engkau disana

Kadang langit terasa gelapnya

Namun bintang kan tunjukan

Rinduku pada dirinya


Walau keujung dunia, pasti akan kunanti

Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu [x3]


Karena ku yakin, Kau hanya untukku [x2]


hanya untukku [x2]



Lirik Kahitna – Untukku ini dipersembahkan oleh Indonesian Top Hits Song.

Kamis, 08 April 2010

Lanjutan pacar pertama

hmmmm.... aku ga jadi putus... akhirnya baikan lagi... dan sekarang udah hampir 1 tahun.... lumayan awet yaaaa....hihihihi... yang jelas udah ga terlalu sering berantem... udah lumayan adem ayem.. o iya bulan november lalu akhirnya aku dan aa' bisa ktemu... aa ke solo selama 4 hari.. lumayan lama c, tapi ga cukup buat ngilangin rasa kangen... huhuhuhu... iri deh klo liat orang-orang bisa pacaran.. klo aku... ketemu ajah bisa dihitung pake jari... iri banget deh...huh... kapan ya aa' ke solo lagi?
aq pengen bilang sesuatu aja buat teman-teman yang baca blogku ini... selalu bersyukurlah dengan apa yang kalian miliki... bersyukurlah jika memiliki pacar yang dekat, masih satu kota. jangan buang waktu kalian untuk bertengkar... dan jangan mengkhianati perasaan pacar dengan mencoba selingkuh dengan orang lain.. percaya atau tidak, perbuatan yang kita lakukan itu suatu saat pasti juga akan kita tunai... aq sering banget ngeliat pengalaman dari temen-temenku yang selingkuh... akhirnya hubungannya selalu buruk dan ga pernah bahagia dengan seseorang yang baru... ga percaya?? silahkan dicoba...
hmmm... doaku... semoga awet pacarannya...

Selasa, 20 Oktober 2009

pacaran pertama yang berkesan

aku mulai pacaran pertama kali waktu umurku 20 tahun kurang 7 hari . pacaran pertama kali ini bisa dibilang aneh coz aq belum pernah ketemu sama pacarku itu. sebenernya pernah sih deket banget ma beberapa cowok, tp statusnya cma ttm soalnya waktu itu aq emang belum tertarik sama namanya pacaran lagian jg blom boleh. yach cma deket ajah... kembali ke masalah pacaran pertama kali. kenapa aq maw nerima dia, padahal sama sekali gak kenal ma dia??? i don't know... aq jg bingung kenapa waktu dia ngajak pacaran aq maw. temen2 bilang aq ini aneh.... mending cowoknya cakep...(kata mereka sih, aq ga pernah menilai orang dari wajah) udah tua,gundul, kumisan+brewokan lg ( menurutku sih ga seburuk itu).
akhirnya aq ma dia memutuskan untuk pacaran (pdhl pdkt aja belum) tanggal 13 mei 2009. mamaku bilang aq aneh. papaku jg. apalagi temen2ku. ahh... biarin apa kata mereka toh aq yang ngejalanin. akhirnya 1 bulan kemudian... aq dan dia memutuskan buat tetap lanjut pacaran. lama-lama aq jga jadi sayang ma dia (gimana nggak, tiap hari aja telponan). tapi ternyata pacaran itu ga seindah kayak cerita di film-film. penuh dengan konflik. hoh... akhirnya kejadian jga.. putus untuk yang pertama kali... tapi sorenya kita udah nyambung lagi.. (pacaran model apa yah???) pokoknya selama 4 bulan itu aq ma dia dah 3kali putus (kalo ga slah). semuanya terjadi sebetulnya sih cuma salah paham ajah... yach emang selalu aq yang pertama kali minta putus, aq ini orangnya masih kayak anak kecil gtu... padahal dia udah dewasa... tapi dia selalu sabar menghadapi tingkahku yang satu ini. o iya aq ini jg orangnya cemburuan.
tiap kali aq putus ama pacarku ini temen2 kampus ku selalu senang. kata mereka, " baguslah... cari yang lain ajah yang nyata. eman-eman (sayang) kamu nid.." ahh... lagi2 aq punya keyakinan biarinlah kata mereka apa, toh aq yang ngejalanin. bagiku asalkan aq bahagia, dia bahagia wajah ga jadi masalah (lagian, kayak aq cantik ajah bisa bilang orang jelek... )
haii... kalian tahu ga.... aa ku itu orang yang baik, sabar,dewasa, pengertian banget ma aq. aq beruntung banget punya pacar kayak dia. aq bahagia sama dia.... aq lebih bahagia sekarang dibanding dulu waktu aq masih sayang sama "si ganteng berkacamata". terbuktikan, wajah tampan itu ga jaminan buat bahagia. aq pengen kasih tau kalian yang baca blogku ini, jangan pernah menilai orang dari wajahnya, tapi hatinya.
nah cerita lanjut lagi, sekarang aq ma pacarku dah pacaran selama 6 bulan. tanpa pernah ketemu, bahkan kencan sekalipun. selama ini kita pacaran cuma lewat telepon,sms, webcaman di ym! pokoknya aku bahagia ma dia. aq senang, cita2ku buat ngerasain pacaran pertama yang indah dah aku rasain. tapi, kemarin, tanggal 19 oktober 2009 terjadi kesalahpahaman lagi... dan lagi2 aq yang memulai... yach aq ga taw, apa akhirnya aq dan dia bakal jadian lagi apa enggak. nanti aq ceritain deh lanjutannya,,
yang jelas maw putus ataw nyambung lagi, dia tetep aa ku... klo aq ga bisa lagi jadi pacarnya, aq akan jadi adeknya. entah dia maw apa gak. pokoknya, dalam hati aq udah mutusin hal ini. dia akan tetap jadi inspirasiku,,,, aq sayang aa... walaupun mungkin dia ga taw yang sebenernya... apapun kata orang2 dia tetap jadi orang yang baik di mataku.... karena hatilah yang menilai.... bukan wajah....

>>>> maafin yayank ya aa... yayank selalu buat aa marah,sebel, bingung...

Minggu, 26 April 2009

MY POEM

Sepi…

Hanya sunyi yang menyapa

Lagi dan lagi kurasa

Mencoba tuk mengerti

Arti hadirnya

Yang sebelumnya tak kusadari

Semua telah hilang

Hanya karena sepatah kata

Skali lagi kucoba tuk mengerti

Namun belum kutemukan jawabannya

Ku hanya berpura-pura

Maaf terucap

Namun kau tak mengerti jua

Selalu aku yang mencoba mengerti

Mencoba bertahan dengan skuat hati

Letih yang terasa

Sakit tak lagi terasa

Karena ku slalu mencoba

Tuk skali lagi mengerti

Mengapa kau tak mencoba….

Tak sedikitpun kau hargai

Jengah sudah aku dalam semua kabut ini

Tak akan kuulangi lagi

SEBUAH BUKU BERSAMPUL HIJAU

SEBUAH BUKU BERSAMPUL HIJAU

OLEH: NIDYA FITRI R.

Aku memandang buku bersampul hijau yang tergeletak dia atas meja belajarku. Aku masih tidak mengerti mengapa Sina memberikan buku itu kepadaku. Padahal selama ini, Sina dan aku tidak terlalu dekat. Bahkan jika tidak kusapa, dia tidak akan menyapaku terlebih dahulu. Sina memiliki sifat keras, mudah marah dan individual. Di kampus, dia sama sekali tidak mempunyai teman. Dan mungkin Cuma aku yang sering menyapanya. Teman – teman sering menasehatiku agar tidak mendekati Sina. Namun, aku tidak pernah menghiraukan nasehat teman-temanku. Percakapan tadi siang pun masih terekam di otakku.

“ Dis, kamu jangan dekat-dekat deh sama Sina. Nanti nasib kamu jadi kaya si Icha.” Ucap Desi.

“ Emangnya Icha diapain Sina?” tanyaku penasaran.

“ Dulu, Icha juga seperti kamu, berusaha baik sama Sina. Tapi, gara-gara Icha nasehatin Sina agar rajin masuk kuliah, catatan kuliah yang akan dipinjem Sina langsung dilempar ke mukanya lalu Sina menjawab dengan kasar agar Icha tidak usah ikut campur dengan urusannya.” Ucap Desi dengan ekspresi penuh kejengkelan.

“ Enggak Cuma itu Dis, kamu tahu Donnie, anak taekwondo itu kan. Dia itu mantan pacarnya Sina waktu SMA.Setiap dengar namanya Sina, dia selalu berteriak marah. Ekspresi mukanya selalu menunjukkan betapa bencinya dia dengan Sina.Kata teman-temannya, mereka putus karena Sina selingkuh dengan cowok lain.Dan masih banyak lagi masalah yang dia buat ke orang-orang” ucap Dea.

Mendengar cerita dari mereka aku hanya bisa tersenyum. Aku sendiri heran, mengapa aku sangat ingin bersahabat dengan Sina. Aku membuka buku tersebut. Di halaman paling depan terdapat beberapa foto. Ada foto Sina dengan kedua orang tuanya ketika masih kecil, lalu ada foto Sina bersama seorang gadis berseragam SMA, foto Sina bersama Donnie, dan beberapa foto lain yang menampakkan senyum manis Sina. Aku belum pernah melihat dia tersenyum seperti ini. Kemudian aku membuka beberapa lembar halaman buku tersebut. Mataku mulai membaca satu persatu halaman yang ada di buku tersebut.

23 Maret 2003

Tuhan, kenapa sih mama dan papa selalu bertengkar. Apa mereka tidak pernah sadar, mereka selalu bertengkar dihadapanku. Aku yang enggak bersalah selalu ikut kena marah. Mereka memang tidak pernah memikirkan perasaanku. Mereka juga lupa, kalau hari ini aku berulang tahun yang ke 17 tahun. Untung saja ada Donnie dan sahabatku, Rena yang ikut merayakan ulang tahunku. Paling tidak aku jadi merasa tidak sendiri lagi…

Ternyata, buku ini adalah buku harian milik Sina. Aku segera menutup buku tersebut, Aku tahu, membaca buku harian seseorang merupakan hal yang sangat tidak sopan. Aku memejamkan mataku, berharap esok segera tiba. Aku ingin segera mengembalikan buku tersebut ke Sina.

T

Aku bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Buku tebal bersampul hijau milik Sina

aku masukkan ke dalam tasku. Beberapa menit kemudian aku tiba di kampus lalu mencari Sina. Namun, aku tidak berhasil menemukannya. Aku memutuskan untuk kembali mencarinya setelah jam kuliah selesai. Setelah jam kuliah selesai, aku melanjutkan mencari Sina. Hampir seluruh teman satu jurusan aku tanyai, namun hasilnya sama, mereka tidak melihat keberadaan Sina. Aku memutuskan untuk menemui Icha, karena dia pernah dekat dengan Sina. Mungkin saja dia tahu alamat rumah Sina.

“ Maaf ya Dis, aku tidak tahu alamat rumahnya Sina. Kamu Tanya aja sama Donnie, dia kan pernah pacaran dengan Sina, mungkin saja dia tahu alamatnya “ ucap Icha.

“ Ya udah, thanks ya Cha” ucapku .

Akhirnya aku menemui Donnie, teman satu klub taekwondoku di kampus.

“ Don kamu tahu alamat rumahnya Sina enggak ?” tanyaku pada Donnie.

“ Ngapain sich, kamu mencari Sina. Jangan-jangan dia membuat masalah lagi ya” Tanya Donnie gusar.

“ Enggak kok, aku Cuma mau mengembalikan bukunya saja”ucapku sambil mengeluarkan secarik kertas.

“ oh, begitu. Ini alamatnya, hati-hati ya, jangan sampai kamu bermasalah dengan dia “ ucap Donnie sambil memberikan secarik kertas yang berisikan alamat.

“ Makasih ya Don” ucapku . aku segera mencari alamat rumah Sina. Setelah bertanya kesana kemari, ahirnya aku berhasil menemukan rumah Sina. Lalu aku memencet bel rumah Sina. Tak berapa lama kemudian dari dalam rumah muncul seorang perempuan yang tampaknya lebih muda dari aku.

“ Selamat sore, Sinanya ada di rumah?” tanyaku sambil tersenyum.

“ Oh, mbak Sina udah 3 hari nelum pulang, tidak tahu dimana.” Ucapnya sambil mengucir rambutnya yang nampak kusut.

“ Oh, begitu ya. Nanti kalau Sina sudah pulang, tolong beritahu kalau dicari Gadis. Makasih ya” ucapku . “ Ya ampun kamu kemana sih, Sina. “ tanyaku dalam hati. Sesampainya di rumah aku mengeluarkan buku itu dari tasku. Aku sangat penasaran dengan kelanjutan isi dalam buku tersebut. Toh Sina sendiri yang memberikan buku hariannya kepadaku. Akhirnya aku melanjutkan membaca buku yang menjadi tempat curahan hati Sina.

10 April 2003

Akhirnya mama dan papa bercerai dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka memang enggak pernah mikirin perasaanku. Semua orang memang sudah enggak peduli lagi denganku.

Sekarang aku enggak punya siapa-siapa lagi. Rena selalu sibuk dengan pacarnya. Setiap aku mau curhat, dia selalu ada acara dengan pacarnya. Donnie… ugh, dasar cowok sialan!. Waktu aku butuh dia untuk menumpahkan seluruh isi hatiku, dia malah selingkuh dengan cewek lain. Dia makan bareng cewek yang udah lama naksir dia. Huuh… aku enggak tahu lagi mau curhat dengan siapa, selain nulis di buku ini….

Aku membuka dan membaca halaman demi halaman yang ditulis oleh Sina. Di setiap halamannya, selalu berisi tentang kesedihan,kemarahan dan rasa kesepian. Terkadang mataku berkaca-kaca setiap membaca tulisannya itu.

19 April 2003

Ternyata enggak semua orang cuek dengan aku, masih ada orang yang mau dengerin curhatanku. Egi memang terkenal paling ‘preman’ di sekolah, tapi dia lebih baik dibanding Rena dan Donnie. Dia mengenalkan aku ke teman-teman satu genknya. Mereka baik dan ramah. Egi memberi ide agar aku balas dendam ke Donnie, dan aku setuju dengan idenya. Rencananya aku pura-pura selingkuh dengan temannya Egi. Aku enggak sabar melihat Donnie ngerasain hal yang sama seperti aku.

Aku melanjutkan membaca buku itu. Aku ingin mengetahui, kelanjutan masalah ini.

21 April 2003

Akhirnya aku putus juga dengan Donnie. Memang itu yang aku mau. Sekarang aku enggak perlu merasa sedih lagi karena dilupakan oleh orang-orang yang aku sayangi. Hanya dengan menghirup putaw saja aku bisa melupakan semua masalah yang aku alami. Aku enggak peduli lagi, ortu yang cerai,Donnie yang selingkuh atau Rena yang sekarang Cuma bisa bilang kalau aku udah berubah. Memangnya dia pikir gara-gara siapa aku jadi seperti ini. Aku sama sekali enggak peduli dengan mereka lagi….

Aku tertegun membaca tulisan yang baru saja aku baca. Kasihan sekali Sina. Dia merasa tidak ada orang yang peduli terhadap dia. Berbeda sekali dengan aku yang selalu mempunyai teman yang baik dan selalu memperhatikan aku.

T

Sina berlari tak tentu arah, menghindar dari kejaran Gengnya Egi. Sudah 3 tahun dia bergabung dengan geng itu. Dia ingin keluar dari geng itu, karena selalu dipaksa untuk ikut mengedarkan narkoba. Sina tahu, pekerjaan itu sangat beresiko. Lagipula dia juga berusaha untuk tidak bergantung lagi dengan benda terkutuk itu. Namun, upayanya selalu saja gagal karena dia tidak tahan menahan sakit ketika sedang sakaw. Tubuhnya serasa dipukuli oleh ribuan orang, jika dia tidak mengonsumsi benda tersebut. “ Cepetan, kejar cewek itu, jangan sampai lolos” teriak Egi

dengan suara menggelegar. Sina terus berlari tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Dia tidak peduli dengan tatapan aneh orang yang dia lewati. Dia hanya ingin selamat agar tidak mati konyol dibunuh oleh Egi. Beberapa kali dia terjatuh karena lelah. Namun dia segera berdiri lagi dan berlari sekuat tenaga. Dia tidak menghiraukan teriakan dari orang-orang di sekitarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya terseret kereta api express. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera menolongnya.

T

4 Desember 2006

Tuhan, aku sudah capek terus menerus lari dari kejaran gengnya Egi. Aku tahu, aku ini hanyalah pendosa dan tidak pantas untuk meminta pertolonganmu. Tapi, aku mohon padaMU Tuhan, bantulah aku untuk lepas dari semua ini. Aku tidak ingin bergantung lagi dengan putaw. Aku hanya ingin hidup normal seperti dulu…

Ternyata tulisan yang aku baca tadi, adalah curahan hati Sina yang terakhir ditulisnya. Lalu aku membaca halaman terakhir yang ditulis oleh Sina. Rupanya tulisan itu pesan dari Sina untukku. Aku membaca tulisan itu dengan hati berdebar.

13 Desember 2006

Hai, Gadis…

Aku tahu, kamu pasti bingung karena aku memberikan buku ini ke kamu. Aku ingin minta tolong, karena aku rasa kamu satu-satunya orang yang bisa menolongku. Sudah lama aku ingin keluar dari lingkungan hitam ini. Tapi tidak ada yang bisa membantu. Kamu beda dari teman-teman yang lain. Kamu tetap ramah dan baik terhadapku walaupun aku sering bertindak sebaliknya. Kalau aku udah berhasil keluar dari lingkungan yang hitam itu, kamu mau kan jadi temanku?

Sebuah pertanyaan yang langsung bisa kujawab. Tentu saja aku mau, karena aku tahu, kalau sikap kasar Sina selama ini ke orang-orang bukan sifat dia yang sesungguhnya. Aku tersentak kaget mendengar ketokan pintu yang terdengar sangat terburu-buru. Aku segera membuka pintu.

“ Dis, nih baca Koran ini” ucap Desi sambil memberikan Koran kepadaku.

“Mahasiswi Tewas Tertabrak Kereta, Pengedar Narkoba Berhasil Ditangkap”

Aku membaca berita itu dengan seksama. Rupanya Geng Egi berhasil ditangkap oleh polisi ketika sedang mengejar Sina. Orang-orang yang dilewati Sina lah yang melaporkan kejadian tersebut ke Polisi karena curiga terhadap tingkah laku mereka yang mencurigakan. Dalam Koran tertulis Sina berlari dari kejaran geng Egi karena ingin keluar dari geng tersebut. Ternyata keinginannya untuk keluar dari geng itu benar-benar kuat. Air mataku mengalir. Aku memeluk Buku bersampul hijau itu. “Thanks ya,Sin” ucapku dalam hati. Dan Hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk Sina adalah memperlihatkan isi buku tersebut ke Donnie.

TTT